“Iya lagu itu sering disebut sebagai karya klasik yang ikonik, sangat populer di tahun 80- an, mengisahkan adanya semangat perjuangan yang tak kenal lelah dan menyerah, meski pedang menghadang,” ujar Heri.
“Loh kok pakai pedang segala?” tanya Yudi.
“Memang syair lagunya begitu. Dengerin nih..: Kuingin hidup seribu tahun lagi, walau tertusuk pedang di dada. Kuingin hidup seribu tahun lagi, walau dibakar api menyala,” senandung Heri.
Baca Juga: Balqis Humaira Siapa dan Kerja Apa? Viral Singgung Kasus Raja Minyak Riza Chalid
“Tak hanya dalam lagu. Aku ingin hidup seribu tahun lagi juga terukir dalam karya sastra sang maestro Chairil Anwar dalam salah satu puisinya yang sangat fenomenal berjudul: Aku (Aku mau hidup seribu tahun lagi),” urai mas Bro.
“Puisi “Aku” tersebut diciptakan pada zaman penjajahan Jepang menggambarkan semangat perjuangan tak kenal menyerah melawan penindasan. Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang, aku akan lebih tidak peduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi,” kata Yudi.
“Di era kekinian, aku mau hidup seribu tahun lagi berjuang memerangi ketidakadilan. Tiada henti mewujudkan keadilan sosial, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Heri.
“Tokoh “Aku” melekat pada kita semua, utamanya para elite politik negeri ini. Siapa yang yang tidak sejengkal pun bergeser sebagai tokoh “Aku” akan dicintai rakyatnya, bukannya dua periode, malah untuk seribu tahun lagi,” urai mas Bro.
