Chico menambahkan, berdasarkan analisis data BPS dan berbagai studi, pengangguran di Jakarta dipengaruhi beberapa faktor utama. Salah satunya, mismatch keterampilan terutama pada lulusan SMA dan SMK yang tingkat penganggurannya paling tinggi.
Selain itu, Chico mengatakan, arus masuk penduduk dari luar Jakarta turut meningkatkan angkatan kerja tanpa diimbangi penciptaan lapangan kerja baru.
"Banyak lulusan SMA/SMK (TPT tertinggi 8,14 persen untuk SMA) tidak sesuai dengan kebutuhan industri digital dan jasa modern," katanya.
"(Terakhir) dampak eksternal seperti sisa pandemi, kemiskinan, dan ketidakstabilan global mempengaruhi sektor seperti pariwisata dan manufaktur," ujarnya. (cr-4)
