"Kalau malem baru jualan nasi goreng, tapi bukan saya yang jagain, kalau saya yang jagain enggak kuat," tutur dia.
MA menuturkan, bayaran guru di sekolah tempat dia mengajar tergantung pembayaran SPP dari orangt ua murid.
Ia menyebut hanya sekitar 65 persen orang tua murid yang mampu membayar SPP secara utuh.
Baca Juga: Seperti Apa Jam Kerja Dapur Program Makan Gratis? Ini Pembagian Tugas Pemorsian sampai Packing
"Jadi kurang lebih 60 sampai 65 persen lah yang sanggup dan mampu membayar setiap bulannya. Sehingga masalah penggajian bermasalah juga. Jadi yang kami terima ya sering kali SPP kumpul berapa, ya sudah kami lihat, ya kurang lebih Rp700 ribu lah. Itu selama 3 tahun. Lalu sepanjang perjalanan ada perubahan," kata dia.
Meski begitu, namun MA mengungkapkan, sekolah swasta tempat dia mengajar mendapatkan bantuan Dana Operasional Sekolah (BOS) dan juga Kartu Jakarta Pintar (KJP).
"Karena memang kami terdaftar di Dapodik. Lalu juga kami ada KJP juga kami proses, seperti itu. Itu bagian dari bentuk bantuan pemerintah sebetulnya," ungkapnya.
MA berharap adanya kesamaan pendekatan antara guru negeri dengan guru swasta. Sebab ia menilai semua guru sama yaitu mengajar anak-anak bangsa demi masa depan yang lebih baik.
"Ya harapan kita bahwa ada perhatian juga terhadap sekolah-sekolah swasta ya terutama dari sisi penggajian dan juga dari sisi pembangunan sekolahnya," ucapnya.
"Terutama yang yayasan swasta yang kecil yang memang berdirinya di masyarakat kelas menengah ke bawah," pungkasnya.
