10 Alasan Mengapa Paylater Bisa Membuat Kamu Miskin Perlahan

Selasa 03 Feb 2026, 16:15 WIB
Penggunaan paylater meningkat tajam dalam empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan finansial generasi muda. (Sumber: Poskota/Yusuf Sidiq)

Penggunaan paylater meningkat tajam dalam empat tahun terakhir, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan finansial generasi muda. (Sumber: Poskota/Yusuf Sidiq)

“Paylater bukan dana darurat. Setiap kali dipakai, kamu memindahkan pendapatan masa depan untuk konsumsi masa lalu,” ujar narasi dalam video.

Riset keuangan perilaku menegaskan bahwa menggunakan utang untuk cash flow smoothing justru meningkatkan kerentanan.

4. Iklan 0% Bunga yang Tidak Sepenuhnya Nol

Paylater memperoleh keuntungan ketika pengguna tergelincir. Tawaran “0% bunga” sering menyembunyikan biaya layanan, administrasi, atau penalti keterlambatan yang setara dengan bunga tinggi secara efektif.

Studi Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) menyebutkan bahwa biaya tambahan BNPL dapat mencapai annual percentage rate setara kartu kredit subprime.

5. Desain Aplikasi yang Memicu Impulsif

Aplikasi paylater sengaja dibuat untuk menghilangkan hambatan pengambilan keputusan. “Mereka menghapus friksi agar kita klik bayar tanpa mikir panjang,” jelas channel Youtube tersebut.

Beberapa studi perilaku digital menemukan bahwa aplikasi BNPL mengandalkan behavioral data untuk menampilkan penawaran yang memicu pembelian impulsif.

6. Risiko Gagal Bayar Lebih Tinggi

Tidak seperti kartu kredit, paylater cenderung memberikan akses kepada pengguna dengan literasi finansial rendah. Namun, paylater dapat mengakibatkan catatan buruk pada sistem kredit formal seperti SLIK OJK bila terjadi gagal bayar.

7. Hilangnya “Pain of Paying”

Ketika pembayaran dipisah dari momen belanja, rasa sakit saat mengeluarkan uang tidak terasa. Hal ini memicu dorongan dopamin dari membeli tanpa langsung merasakan dampaknya.

Orang-orang berpikir tanpa sadar mengatakan “Belinya sekarang aja, bayarmah gimana rezekinya nanti juga ada” demikian kutipan video channel @Ruang Kaya.

8. FOMO dan Budaya Konsumtif

Promosi cashback, cicilan murah, dan normalisasi utang membuat masyarakat merasa "semua orang melakukannya". Hal ini menjelaskan bahwa fenomena FOMO memperkuat perilaku belanja impulsif alih-alih mendorong tabungan.

9. Contohnya Ponsel Rp5 Juta Bisa Menjadi Rp7 Juta

Diibaratkan ponsel Rp5 juta dapat berubah menjadi Rp6–7 juta bila dibeli melalui paylater karena biaya tambahan. Selisih tersebut adalah potensi investasi yang hilang.

10. Dampak Jangka Panjang: Skor Kredit, Karier, dan Kesehatan Mental

Ketika tagihan menumpuk, batas aman rasio utang menjadi terlampaui. Perlu diingat catatan kredit buruk memengaruhi peluang KPR, karier tertentu, bahkan hubungan personal.


Berita Terkait


News Update