POSKOTA.CO.ID - Tren menggelar pesta pernikahan mewah terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, bahkan ketika kondisi ekonomi global masih menunjukkan ketidakpastian.
Sebuah survei nasional oleh platform keuangan LendingTree pada Maret 2025 menemukan bahwa sekitar 67% pasangan pengantin baru di Amerika Serikat mengaku rela berutang demi mewujudkan pernikahan impian mereka. Temuan ini memicu perdebatan mengenai batas antara kebutuhan emosional dan kesehatan finansial jangka panjang.
Dalam laporan tersebut, sebagian besar responden menyatakan bahwa tingginya biaya venue, dokumentasi, hingga paket layanan lengkap dari vendor membuat mereka kesulitan membiayai pernikahan secara tunai. Kondisi ini membuat produk perbankan seperti wedding loan semakin diminati.
Baca Juga: Pegawai Ritel di Pasar Minggu Dianiaya Sekelompok Orang, Polisi Tunggu Laporan Korban
Pandangan Ahli: Utang sebagai “Investasi Emosional”
Analis keuangan LendingTree, Matt Schulz, mengatakan bahwa keputusan berutang untuk menikah mungkin tidak masuk akal secara matematis, tetapi dapat dipahami melalui perspektif emosional.
“Utang tetaplah utang. Namun, bagi sebagian pasangan, menggelar pernikahan yang bermakna bisa dianggap sebagai investasi emosional yang memberikan nilai imbal hasil non-finansial,” ujar Schulz, dikutip dari laporan survei tersebut.
Menurutnya, meskipun keputusan berutang harus dilakukan secara bijak, momen pernikahan kerap dianggap sebagai peristiwa sakral yang terjadi sekali seumur hidup. Faktor ini mendorong pasangan untuk mengambil risiko finansial demi menciptakan pengalaman yang mereka inginkan.
Biaya Pernikahan Meningkat, Pilihan Utang Makin Luas
Industri pernikahan di Amerika Serikat dikenal sebagai sektor bernilai miliaran dolar, dengan rata-rata biaya pesta yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pasangan kini dihadapkan pada berbagai opsi pembiayaan, mulai dari kartu kredit, pinjaman pribadi, hingga wedding loan khusus yang ditawarkan oleh lembaga keuangan.
Produk wedding loan memberikan kemudahan berupa pencairan cepat dan tenor fleksibel. Namun, bunga tetap menjadi beban yang harus diperhitungkan. Pasangan perlu memahami kemampuan finansial, termasuk pendapatan setelah menikah, sebelum memutuskan berutang.
Baca Juga: Info Bunga KUR BRI 2026 dan Simulasi Cicilan yang Wajib Diketahui Pelaku UMKM
Perspektif Psikologis di Balik Keinginan Menggelar Pernikahan Mewah
Selain faktor finansial, dorongan emosional dan sosial juga berperan besar. Media sosial memiliki pengaruh signifikan terhadap standar visual pernikahan zaman modern. Banyak pasangan merasa perlu menyesuaikan diri dengan ekspektasi keluarga maupun tren yang berkembang.
Meski memiliki manfaat emosional, keputusan berutang untuk pernikahan tetap menyimpan risiko. Pembayaran cicilan pasca pesta dapat menjadi beban signifikan, terutama bagi pasangan yang baru memulai kehidupan rumah tangga. Pengelolaan keuangan yang buruk bahkan dapat menimbulkan konflik.
Pasangan disarankan untuk membuat perencanaan matang, menyusun anggaran realistis, dan mempertimbangkan skala prioritas. Pernikahan yang bermakna tidak harus selalu mewah, selama nilai kebersamaan tetap terjaga.
