Ia merekomendasikan pemerintah daerah menerapkan pendekatan health in all policies dan manajemen risiko kesehatan lingkungan dalam setiap proyek RDF.
"Langkah yang disarankan antara lain peningkatan sistem pengolahan air lindi dengan IPAL berlapis dan kolam penampung bergeomembran, pemantauan kualitas air, udara, dan tanah minimal setiap tiga bulan, serta pelibatan dinas lingkungan hidup dan dinas kesehatan," ujarnya.
Selain itu, ia mendorong pelibatan aktif masyarakat melalui literasi risiko kesehatan dan pembentukan komite warga pemantau lingkungan, penerapan sistem peringatan dini kebocoran lindi dan emisi gas.
"Serta kebijakan pemilahan sampah di sumber agar RDF hanya menerima material kering non-B3," kata dia.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, Dicky juga menekankan pentingnya surveilans penyakit berbasis lingkungan di radius hingga dua kilometer dari fasilitas RDF, pemeriksaan kesehatan berkala bagi warga sekitar, respons medis cepat jika terjadi paparan, serta riset dampak kesehatan jangka panjang melalui kerja sama pemerintah daerah dan lembaga penelitian.
“Dengan pendekatan one health dan health in all policies, inovasi energi dan pengelolaan limbah bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” ujar dia. (cr-4)
