POSKOTA.CO.ID - Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater semakin menguat posisinya di tengah masyarakat Indonesia. Kemudahan berbelanja tanpa harus membayar langsung membuat layanan ini menjadi pilihan banyak orang, terutama di era digital yang serba cepat dan praktis.
Pertumbuhan paylater tercatat terus menanjak dalam setahun terakhir. Jumlah pengguna paylater telah mencapai puluhan juta orang, menandakan perubahan signifikan dalam pola konsumsi dan cara masyarakat mengelola keuangan sehari-hari.
Namun, di balik tren positif tersebut, muncul sinyal peringatan yang tak bisa diabaikan. Dominasi generasi muda sebagai pengguna utama paylater, disertai meningkatnya angka kredit macet, menjadi alarm bagi masyarakat dan regulator agar lebih waspada terhadap risiko utang digital.
Baca Juga: Cara Pakai PayLater Punya Teman Tanpa Rusak Hubungan
Gen Z Mendominasi Pengguna Paylater di Indonesia
Lonjakan pengguna paylater didorong kuat oleh generasi muda. Gen Z tercatat sebagai kontributor terbesar, dengan proporsi hampir 40 persen dari total pengguna BNPL berasal dari kelompok usia ini. Faktor kepraktisan, proses persetujuan yang cepat, serta kemudahan akses melalui ponsel menjadi alasan utama paylater semakin populer di kalangan anak muda.
Selain itu, layanan ini kerap dianggap sebagai solusi instan ketika dana tunai terbatas, terutama untuk kebutuhan gaya hidup, perjalanan, hingga belanja online di berbagai platform digital.
Baca Juga: Dana PayLater Riba Atau Tidak? Simak Hukumnya dalam Islam
Kredit Macet Paylater Menyentuh 4 Persen
Di balik pertumbuhan tersebut, muncul sinyal peringatan. Tingkat kredit macet paylater kini mencapai sekitar 4 persen, angka yang dinilai cukup mengkhawatirkan jika tidak dikelola dengan baik. Kondisi ini menjadi alarm bagi pengguna agar lebih berhati-hati dalam memanfaatkan fasilitas utang digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa paylater pada dasarnya adalah bentuk utang yang wajib dilunasi sesuai tenor yang disepakati. Tanpa perencanaan matang, kemudahan menekan tombol “setuju” berpotensi menjerumuskan pengguna ke dalam beban finansial berkepanjangan.
Risiko Tersembunyi di Balik Kemudahan Paylater
Layanan paylater yang tersedia di berbagai platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Traveloka, hingga e-wallet seperti Gojek dan OVO memang menawarkan tenor fleksibel, mulai dari 30 hari hingga 12 bulan. Namun, ada sejumlah risiko yang kerap luput dari perhatian pengguna.
Beberapa di antaranya adalah gangguan arus kas akibat cicilan menumpuk, biaya tersembunyi seperti bunga, biaya admin, dan langganan, serta potensi perilaku konsumtif dan impulsif karena tergiur promo instan. Selain itu, aspek keamanan data pribadi juga tetap menjadi ancaman di tengah aktivitas digital yang semakin padat.
Baca Juga: Shopee PayLater Dibekukan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Agar Bisa Aktif Kembali
Tips Aman Menggunakan Paylater agar Tidak Terjebak Utang
Pengamat keuangan dan pihak otoritas menyarankan masyarakat untuk mengedepankan logika dan perencanaan sebelum menggunakan paylater. Pengguna disarankan memahami batas limit sesuai kemampuan bayar, disiplin membayar tagihan tepat waktu, serta memprioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan.
Jika barang yang diincar tidak bersifat mendesak, menabung dinilai sebagai pilihan yang jauh lebih aman dan sehat secara finansial dibandingkan memanfaatkan utang jangka pendek.
Paylater bukanlah layanan yang sepenuhnya buruk, selama digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Kunci utamanya adalah kemampuan mengelola keuangan dengan baik serta membedakan antara kebutuhan primer dan dorongan konsumtif, agar tidak terjebak dalam jeratan utang yang merugikan di masa depan.
