Dalam pengakuannya, mantan DC lapangan tersebut menyebut, celah terbesar yang sering dimanfaatkan oknum penagih bukanlah kekerasan fisik, melainkan rasa takut dan malu nasabah.
Menurut dia, saat ini banyak orang sudah tidak terlalu takut pada ancaman fisik atau hukum.
Sebaliknya, rasa takut dipermalukan di lingkungan sosial justru menjadi senjata paling efektif.
“Yang paling ditakuti sekarang itu bukan kekerasan, tapi rasa malu. Takut data disebar, takut keluarga atau kantor tahu,” ujar sang narator Solusi Keuangan.
Baca Juga: Sosok Dalang di Balik Kasus Dustin Tiffani Siapa? Ini Identitas Terduga Penipuan Mobil Rp200 Juta
3. Datang ke Kantor Bukan Sekadar Menagih
Ia juga mengungkapkan bahwa, dalam beberapa kasus, kedatangan DC ke kantor atau lingkungan tempat tinggal nasabah bukan semata-mata untuk menagih, melainkan untuk memberi tekanan psikologis.
“Tujuannya bukan nagih, tapi bikin malu. Kalau orang sudah terpojok dan malu, biasanya lebih mudah ditekan,” jelasnya.
Tekanan yang dilakukan secara berulang ini, menurutnya, bertujuan melemahkan mental nasabah agar menyerah dan menuruti kemauan penagih.
4. Nasabah Galbay Diminta Ubah Pola Pikir
Mantan DC lapangan juga menyarankan agar nasabah galbay mulai menghilangkan kelemahan utama yang sering dimanfaatkan penagih, yakni rasa takut dan malu.
Dia mendorong, agar nasabah untuk bersikap lebih tenang, pasrah, dan ikhlas menghadapi situasi, tanpa kehilangan kewaspadaan.
“Kalau mau malu, sekalian saja. Tapi harus punya ilmu dan pegangan hukum,” tandas dia.
Selain itu, ditekankan agar memahami aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), khususnya terkait larangan penyebaran data pribadi, ancaman, dan intimidasi dalam penagihan.
