"Sementara beberapa lokasi lainnya relatif kurang berhubungan antara kedua parameter tersebut," kata Taat.
Kendati demikian, dia mengaku, hingga saat ini belum dapat dipastikan faktor dominan yang paling bertanggung jawab terhadap penurunan tanah di Jakarta.
Baca Juga: Mobil Truk Curian asal Cakung Terparkir di Wilayah Bogor, Polisi Kembalikan ke Pemilik
"Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya penurunan tanah di Jakarta belum bisa diketahui secara pasti," ungkapya.
Dari sisi wilayah, dikatakan Taat, penurunan muka tanah dengan kategori relatif tinggi, yakni lebih dari 4 sentimeter per tahun, terutama terjadi di Jakarta bagian utara.
"Seperti Cengkareng Barat, Kedoya Selatan, Kalibaru dan Penjaringan," kata dia.
Taat menyampaikan, fenomena serupa juga terpantau di daerah penyangga Jakarta.
"Penurunan muka tanah yang relatif tinggi juga masih terjadi di Kosambi dan sekitarnya (Kabupaten Tangerang) dan di Tarumajaya dan sekitarnya (Kabupaten Bekasi)," ucapnya.
Taat mengingatkan, jika penurunan tanah tidak dikendalikan dengan baik, maka dampak yang ditimbulkan akan semakin luas dan serius.
"Risiko jika penurunan tanah tidak dikendalikan tentunya akan berdampak kepada rusaknya bangunan dan infrastruktur, banjir lebih sering terjadi, meluasnya banjir rob, pencemaran air tanah daerah pesisir, dan kerugian lainnya yang berkaitan dengan penurunan kualitas hidup masyarakat pesisir," ujarnya. (cr-4)
