Video Viral Aksi Pengeroyokan Guru oleh Siswa di SMK Negeri 3 Tanjabtim Jambi, Ini Kronologi Lengkapnya

Rabu 14 Jan 2026, 19:06 WIB
Video kericuhan di SMKN 3 Berbak, Tanjung Jabung Timur viral di media sosial. Seorang guru diduga dikeroyok siswa usai cekcok yang dipicu ucapan sensitif. (Sumber: X/@Heraloebss)

Video kericuhan di SMKN 3 Berbak, Tanjung Jabung Timur viral di media sosial. Seorang guru diduga dikeroyok siswa usai cekcok yang dipicu ucapan sensitif. (Sumber: X/@Heraloebss)

JAMBI, POSKOTA.CO.ID - Insiden kekerasan yang melibatkan guru dan siswa terjadi di SMK Negeri 3 Tanjabtim (Tanjung Jabung Timur), Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Peristiwa tersebut menyita perhatian publik setelah rekaman videonya tersebar luas dan viral di media sosial, memperlihatkan situasi ricuh yang terjadi saat jam kegiatan belajar mengajar masih berlangsung.

Dalam video yang beredar dan viral, seorang guru pria tampak terlibat cekcok dengan sejumlah siswa hingga berujung pada aksi pengeroyokan.

Kericuhan itu memicu keprihatinan masyarakat, terutama terkait keamanan dan kenyamanan di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi guru dan peserta didik.

Baca Juga: Antam Buka Suara soal Kabar Ledakan di Area Tambang Bogor, Ini Penjelasan Resminya

Tayangan tersebut menimbulkan kekhawatiran publik serta mendorong desakan agar pihak sekolah dan instansi terkait segera memberikan klarifikasi dan mengambil langkah tegas atas insiden tersebut.

Video Viral Perlihatkan Guru Dikeroyok Siswa

Dalam video berdurasi sekitar 49 detik, terlihat seorang guru pria mengenakan seragam dinas sekolah terlibat adu argumen dengan beberapa siswa di luar kelas.

Cekcok mulut tersebut kemudian berubah menjadi kericuhan, hingga guru tersebut diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa yang terlihat emosi.

Aksi kekerasan itu sempat dilerai oleh guru lainnya yang kemudian mengamankan korban ke salah satu ruangan di dalam sekolah. Namun, situasi belum sepenuhnya kondusif karena pada video lain terlihat guru tersebut mengejar beberapa siswa hingga ke luar pekarangan sekolah.

Ucapan Guru Diduga Picu Emosi Siswa

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut diduga dipicu oleh ucapan sang guru yang dianggap menyinggung perasaan siswa.

Guru tersebut disebut melontarkan kalimat yang mengaitkan kondisi ekonomi orang tua murid dengan sebutan “miskin”, sehingga memancing reaksi keras dari para siswa.

Ucapan tersebut memicu perdebatan sengit antara guru dan murid, yang kemudian berujung pada kekerasan fisik. Sejumlah siswa mengaku tersulut emosi karena merasa orang tua mereka dihina di depan umum.

Baca Juga: Bangunan Terendam Banjir, Siswa dari 3 SDN di Pandeglang Belajar dari Rumah

Pengakuan Guru: Bermula dari Teguran Tak Sopan

Guru yang terlibat dalam insiden tersebut, Agus Saputra, memberikan klarifikasi terkait kejadian itu. Ia menyebut peristiwa bermula saat dirinya sedang melintas di depan kelas dan mendengar salah satu siswa meneriakkan kata-kata yang dianggap tidak sopan.

Agus kemudian masuk ke dalam kelas dan meminta siswa yang bersangkutan untuk mengaku. Menurutnya, siswa tersebut justru menantang, hingga secara refleks ia menampar murid itu. Agus mengaku tindakannya dilakukan sebagai bentuk pendidikan moral.

Ia juga membantah tudingan menghina siswa. Menurut Agus, kata-kata yang disampaikan berkonteks motivasi dan tidak bermaksud merendahkan kondisi ekonomi siapa pun.

Baca Juga: Jalan Nasional di Pandeglang Rusak Parah, Warga Tanami Pohon Pisang

Mediasi Gagal, Pengeroyokan Tak Terhindarkan

Upaya mediasi sempat dilakukan dengan melibatkan guru dan komite sekolah. Dalam proses tersebut, siswa meminta Agus untuk meminta maaf, sementara Agus memberikan pilihan agar siswa berubah sikap atau mengajukan petisi bila tidak menginginkan dirinya mengajar lagi.

Namun, mediasi tersebut tidak menemukan titik temu. Saat Agus berjalan menuju ruang guru bersama pihak komite, ia justru dikeroyok oleh sejumlah siswa. Kericuhan berlanjut hingga jam belajar selesai, bahkan Agus mengaku sempat dilempari batu.

Ppihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Provinsi Jambi belum mengeluarkan keterangan resmi terkait kronologi lengkap serta langkah yang akan diambil menyikapi insiden tersebut.

Sementara itu, Agus telah melaporkan kejadian pengeroyokan yang dialaminya ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Ia mengaku mengalami memar di bagian wajah dan tubuh akibat insiden tersebut dan berharap ada penyelesaian yang adil demi terciptanya kembali lingkungan belajar yang aman dan kondusif.


Berita Terkait


News Update