POSKOTA.CO.ID - Data Google Trends menunjukkan peningkatan signifikan volume pencarian kata kunci Mens Rea setelah adanya pelaporan ke kepolisian pada 8 Januari 2026.
Lonjakan ini bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan momentum ketika karya tersebut ramai dibicarakan usai ditonton di platform hiburan seperti Netflix.
Fenomena ini mengindikasikan pergeseran atensi publik. Jika sebelumnya Mens Rea diposisikan sebagai karya seni komedi khususnya stand-up comedy dengan muatan kritik sosial maka setelah pelaporan, perhatian publik bergeser ke aspek hukum dan kebebasan berekspresi.
Berdasarkan data Google Trends yang di lansir dari X akun @ismailfahmi ia menganalisis bahwa sebelum pelaporan, tingkat pencarian Mens Rea berada di kisaran 15–40 poin. Namun setelah laporan polisi masuk, angka tersebut melonjak hingga 57 poin, menandakan meningkatnya rasa ingin tahu publik secara luas.
Efek Streisand dalam Komunikasi Publik
Dalam kajian komunikasi publik, fenomena ini dikenal sebagai Efek Streisand, yaitu kondisi ketika upaya membungkam atau menghentikan suatu informasi justru membuat informasi tersebut semakin tersebar luas.
Sebagaimana dikemukakan dalam literatur komunikasi digital Streisand Effect, US Public Discourse Studies, “upaya membatasi akses terhadap suatu konten sering kali menghasilkan efek sebaliknya, yakni amplifikasi”
Pelaporan terhadap Mens Rea bertindak sebagai trigger atensi. Isu yang sebelumnya berada dalam lingkaran terbatas penonton stand-up comedy dan komunitas seni, mendadak masuk ke ruang publik nasional. Publik pun terdorong mencari jawaban atas pertanyaan “Apa sebenarnya isi Mens Rea hingga dilaporkan ke polisi?”
Dalam konteks budaya digital, kontroversi kerap berfungsi sebagai sarana distribusi paling efektif.
Dari Komedi ke Kritik Kekuasaan
Pelaporan tersebut secara langsung mengubah framing publik terhadap Mens Rea.
Sebelum pelaporan, karya ini dipersepsikan sebagai:
- Pertunjukan stand-up comedy
- Kritik sosial berbasis satire
- Ekspresi seni individual
Setelah pelaporan, framing bergeser menjadi:
- Simbol kebebasan berekspresi
- Kritik terhadap kekuasaan
- Representasi relasi negara dan warga
Begitu suatu karya masuk ke ranah “dikriminalisasi”, publik tidak lagi menilai apakah materi tersebut lucu atau tidak. Penilaian beralih ke pertanyaan yang lebih fundamental: adil atau tidak?
Pada titik ini, Mens Rea berhenti menjadi sekadar hiburan dan berubah menjadi artefak politik-budaya.
Efek “Martyrdom” dalam Psikologi Publik Digital
Pelaporan juga menciptakan relasi asimetris di mata publik digital: seorang komedian berhadapan dengan aparat hukum serta klaim representasi organisasi masyarakat besar seperti NU dan Muhammadiyah.
Dalam psikologi komunikasi digital, kondisi ini memicu apa yang disebut martyrdom effect, di mana publik cenderung bersimpati pada pihak yang tampak lebih lemah terutama ketika isu menyentuh kebebasan berpendapat dan ekspresi seni.
Delegitimasi Moral Pelapor
Dinamika semakin kompleks ketika Anwar Abbas, tokoh PP Muhammadiyah, menyampaikan pernyataan pada 9 Januari 2026 yang secara terbuka tidak mengakui pelaporan tersebut.
"Kita harus berlapang dada jika dikritik. Karena lewat kritik, kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum," tegas Anwar Abbas.
Pernyataan ini memicu delegitimasi moral terhadap pelapor. Klaim mewakili organisasi besar kehilangan otoritas simbolik, sementara Mens Rea justru memperoleh validasi moral dari sebagian elite organisasi keagamaan.
Polarisasi dan Amplifikasi Algoritmik
Kontroversi hukum memiliki daya sebar algoritmik yang jauh lebih kuat dibanding konten seni biasa. Media online, podcast, talkshow, hingga platform media sosial seperti X (Twitter), Instagram Reels, dan YouTube ikut mengangkat isu ini.
Algoritma media sosial membaca tingginya interaksi pro dan kontra sebagai indikator konten bernilai tinggi, sehingga distribusi semakin diperluas. Akibatnya, nama Mens Rea muncul lintas platform dan menjangkau audiens yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan pada stand-up comedy.
Inilah sebabnya tren pencarian pasca 8 Januari 2026 tidak menurun, melainkan terus meningkat.
Baca Juga: Imbas Mens Rea Pandji Pragiwaksono, Anak-anak Diserang Netizen di Media Sosial
Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dampak Jangka Pendek
- Pamor Mens Rea meningkat secara nasional
- Karya ini menjadi referensi kritik sosial
- Audiens baru tercipta, didorong oleh isu hukum, bukan hiburan
Dampak Jangka Menengah–Panjang
- Bagi kreator dan dunia seni, Mens Rea berpotensi menjadi tonggak diskursus kebebasan berekspresi di Indonesia.
- Bagi ormas dan institusi, klaim representasi tanpa mandat resmi akan semakin dipertanyakan.
- Bagi negara dan aparat hukum, muncul tekanan publik agar hukum tidak digunakan sebagai alat sensor terhadap karya seni.
Kasus pelaporan Mens Rea merupakan contoh klasik kegagalan strategi komunikasi publik. Niat untuk meredam pengaruh justru berujung pada perluasan pengaruh.
Alih-alih menghentikan kritik, pelaporan ini mengangkat Mens Rea ke level wacana nasional, memberikan panggung yang jauh lebih besar, dan mengubahnya dari pertunjukan menjadi simbol kebebasan berekspresi.