Kebijakan ekspansif ini menjadi respons atas tantangan ekonomi 2025, di mana pertumbuhan PDB triwulan awal sempat melambat hingga di bawah 5 persen, dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, perlambatan ekspor, dan fluktuasi harga komoditas global.
Stimulus fiskal yang digelontorkan, termasuk insentif pajak untuk sektor padat karya, diskon transportasi, serta percepatan program prioritas, berhasil menjaga momentum konsumsi domestik dan mendorong resiliensi ekonomi nasional.
Para ekonom menilai langkah ini sebagai antisipatif yang efektif, meskipun memerlukan pengelolaan utang yang prudent untuk menjaga ruang fiskal pada tahun-tahun mendatang.
Baca Juga: Link Video Bocil Block Blast Zoom Viral Banyak di Cari? Ini Fakta di Baliknya
Dengan demikian, APBN 2025 tidak hanya berfungsi sebagai shock absorber terhadap guncangan eksternal, tetapi juga sebagai katalisator pertumbuhan inklusif menuju pemulihan yang lebih kuat di 2026.
