JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna menilai rencana pembongkaran tiang monorel mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said menjadi momentum besar bagi Pemprov DKI Jakarta untuk memperbaiki kualitas ruang kota sekaligus meningkatkan kelancaran lalu lintas di salah satu koridor utama ibu kota.
Menurut Yayat, keberadaan tiang monorel yang hampir 20 tahun terbengkalai menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari estetika hingga fungsi ruang jalan.
Tiang-tiang tersebut dinilai mengganggu wajah kota, mempersempit median jalan, serta berpotensi menimbulkan risiko keselamatan bagi pengendara.
“Keberadaan tiang monorel ini memang agak mengganggu, dari sisi estetika kota bermasalah, median jalan jadi menyempit, dan pemanfaatannya juga bikin masalah," ujar Yayat kepada Poskota, Rabu, 7 Januari 2025.
Baca Juga: Warga Dukung Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said, Harap Tak Picu Kemacetan
"Bahkan dulu sempat ada niat dijadikan media luar ruang atau advertising, padahal itu ditempatkan di bidang yang sebetulnya bukan aset Pemprov DKI,” sambungnya.
Ia menilai pembongkaran tiang monorel menjadi momen penting karena dapat membuka ruang jalan yang selama ini terhambat. Dengan hilangnya tiang-tiang tersebut, Jalan HR Rasuna Said berpeluang ditata ulang agar lebih lebar, rapi, dan setara dengan koridor utama lain seperti Jalan MH Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman.
“Kalau dibongkar, ini momen besar. Lajur jalan bisa diperluas dan Rasuna Said bisa didorong seindah Thamrin atau Sudirman. Tapi tentu ini memerlukan redesign ulang ruang kotanya,” ucap Yayat.
Yayat juga menyoroti kawasan sekitar stasiun LRT di Rasuna Said yang dinilai akan lebih optimal jika tidak lagi terhalang tiang monorel.
Dengan penataan ulang, kawasan tersebut dapat dibuat lebih ramah bagi pejalan kaki, termasuk penyediaan pelican crossing atau zebra cross.
“Beberapa titik dekat stasiun LRT bisa dibuat lebih bagus lagi. Ruangnya jadi lebih lebar, orang bisa menyeberang dengan aman, dan kawasan tersebut bisa ditata ulang secara lebih manusiawi,” katanya.
Selain meningkatkan estetika dan kenyamanan, Yayat menilai hilangnya median jalan akibat pembongkaran tiang monorel berpotensi menambah kapasitas jalan dan melancarkan arus lalu lintas. Namun, ia menegaskan keberhasilan penataan Rasuna Said harus menjadi contoh bagi lokasi lain.
Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan Rp100 Miliar untuk Bongkar 98 Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said
“Tantangannya bagi Pemprov DKI adalah bagaimana keberhasilan di Rasuna Said ini bisa menjadi contoh penataan di ruas jalan lain, seperti Jalan Asia Afrika atau kawasan dekat Lapangan Tembak,” ujarnya.
Lebih jauh, Yayat menegaskan kegagalan proyek monorel Jakarta harus menjadi pembelajaran penting dalam pembangunan infrastruktur perkotaan, khususnya transportasi massal berbasis rel.
“Pembelajaran yang kita dapatkan adalah ketika membangun konsep transportasi perkotaan, jangan tergesa-gesa. Kajian transportasi, pengembangan kawasan, kelembagaan, pembiayaan, hingga regulasinya harus matang. Kalau tidak, infrastruktur itu bisa berubah jadi monumen kegagalan,” kata Yayat.
Ia menjelaskan, proyek monorel pada masa lalu juga terkendala aturan karena angkutan berbasis rel masih menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kini, melalui revisi Undang-Undang Perkeretaapian, pemerintah daerah memiliki kewenangan lebih luas.
“Sekarang aturannya sudah berubah, pemerintah daerah bisa mengelola angkutan rel. Tapi pengalaman monorel ini harus jadi pelajaran agar ke depan lebih matang dari sisi operasional, bisnis, pengembangan kawasan, dan keberlanjutannya,” ungkap dia.
Di sisi lain, Yayat mengingatkan proses pembongkaran hampir pasti menimbulkan dampak kemacetan. Karena itu, Pemprov DKI diminta menyiapkan perhitungan teknis yang matang.
“Pembongkaran pasti menimbulkan kemacetan. Kita sudah belajar dari banyak kasus penggalian dan pembongkaran jalan di Jakarta. Jangan sampai kejadian seperti di Jalan TB Simatupang terulang di Rasuna Said,” ucap dia.
Baca Juga: Pembongkaran Tiang Monorel Rasuna Said Dipastikan Pekan Depan
Ia juga menekankan pentingnya menyatukan pembongkaran dengan penataan jalan dan median secara bersamaan agar dampak kemacetan tidak berlipat ganda.
“Dengan anggaran Rp100 miliar itu, jangan hanya membongkar tiang monorel. Harus sekaligus penataan median dan koridor jalannya. Kalau hanya dibongkar, kita rugi karena macetnya lebih parah lagi. Lebih baik sekalian macet, tapi dua pekerjaan selesai,” ujar Yayat.
Yayat berharap proyek ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga Jakarta, berupa jalan yang lebih indah, tertata, dan lalu lintas yang lebih lancar.
“Nilai plusnya adalah perubahan Jalan Rasuna Said yang lebih estetis dan lebih lancar. Tapi perlu diingat, semua ini memerlukan kesabaran dari masyarakat yang melintas di kawasan tersebut,” kata dia. (cr-4)