Kemudian untuk menuju sekolah tempatnya bekerja, ia harus berjalan kaki sekitar 8-9 kilometer, dengan menempuh perjalanan dua jam setiap harinya.
"Saya berangkat pukul 05.00 WIB. Biasanya jalan kaki sekitar dua jam, pulang pergi begitu setiap hari. Kadang ada juga yang memberi tumpangan," ujarnya.
Baca Juga: Satpol PP Bekasi Amankan 20 Gereja Jelang Natal, Gandeng Densus 88 Antisipasi Radikalisme
Potret Buram Pekerja Honorer di Indonesia

Kisah Cacang ini menjadi potret buram perjuangan tenaga honorer di pelosok negeri, ia yang sudah puluhan tahun menjaga sekolah, merawat perpustakaan, dan mendukung pendidikan anak bangsa, namun masih harus berjuang keras sekadar memiliki tempat tinggal yang aman serta nyaman.
Selama puluhan tahun, Cacang bersama istrinya, Enok Sutirah 43 tahun, serta ke enam anaknya tinggal di sebuah bangunan tua yang lebih menyerupai gubuk rapuh, tanpa fasilitas memadai dengan kondisi serba terbatas.
Kondisi bangunan yang mereka tempati jauh dari kata layak dan sudah banyak kerusakan. Dinding rumah yang terbuat dari bilik bambu sudah banyak yang ambrol, serta atap rumah yang terbuat dari genteng banyak yang bocor.
Saat malam hari, Cacang dan keluarganya harus menahan dinginnya angin malam yang menembus pada celah-celah bilik bambu. Apalagi saat memasuki musim penghujan, ia dan keluarganya harus menambal bagian atap rumah yang bocor agar air hujan tak membanjiri bagian dalam rumah.
Baca Juga: Usai Tragedi Mobil Tabrak Siswa, SDN Kalibaru 01 Terapkan PJJ Sementara
Selain itu, kondisi bangunan tampak sudah terlihat miring dan memprihatinkan, bahkan tiang-tiang penyangga tampak keropos dan nyaris ambruk. Tidak ada lantai ubin maupun keramik, yang ada hanya tanah keras yang menjadi alas seluruh aktivitas di rumah tersebut.
Sementara, tempat tidurnya terbuat dari ranjang bambu yang sudah tak layak pakai, karena telah lapuk dimakan rayap.
Dengan pendapatan terbatas, kebutuhan keluarga kerap disokong hasil kebun dan upah istrinya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga sekaligus membantu di pembibitan jamur.
"Penghasilan saya seminggu kadang dapat Rp200.000 atau Rp300.000. Tidak ada target, tergantung yang punya pekerjaan," tuturnya.
