JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Dua penagih utang atau debt collector, dikenal sebagai matel (mata elang) tewas setelah dikeroyok massa saat melakukan penagihan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Kamis, 11 November 2025.
Rekan-rekan matel yang mendengar kejadian tersebut melampiaskan kemarahan dengan merusak sejumlah fasilitas, termasuk kios dan kendaraan yang berada di sekitar lokasi Kalibata.
Aksi balasan itu memperluas eskalasi situasi hingga membuat aparat kepolisian harus turun tangan untuk mengendalikan keadaan.
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan insiden situasional yang dipicu oleh ketegangan antara penagih utang dan warga.
"Yang pertama, peristiwa yang terjadi di Kalibata, ini kan sebenarnya peristiwa yang bersifat situasional. Karena ada apa ya orang yang menarik agar dibayar, kemudian ada ketidakpuasan masyarakat, terjadi benturan itu," ujar Pramono di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Desember 2025.
Atas dasar itu, Pramono meminta seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak terpancing provokasi.
"Dan tentunya kita semua, saya sebagai Gubernur Jakarta, meminta semuanya untuk menahan diri. Dan jaga Jakarta itu menjadi hal yang komitmen kita bersama," ucapnya.
Saat ini penanganan kasus tewasnya 2 orang matel yang dikeroyok tersebut sepenuhnya diserahkan kepada aparat penegak hukum.
"Maka dengan demikian, nanti setelah Polisi (atau) Aparat Penegak Hukum memutuskan, tentunya Pemerintah Jakarta akan menindaklanjuti hal itu," ungkap Pramono. (cr-4)
