“Enggak ada. Pokoknya bagaimana hari-harinya saja. Kalau bisa diangkat ya diangkat (pas banjir),” kata Munir.
Ia juga menyebut ada pemberitahuan banjir dari kelurahan melalui bel dan pengeras suara. Namun katanya, sistem itu sering membuat warga salah paham.
"Kadang bel bunyi, tapi enggak banjir. Bikin panik,” ungkap dia.
Warga, menurut Munir, lebih percaya memantau kondisi Ciliwung melalui ponsel.
“Orang sini mah nge-handphone semua. Liat Ciliwung Depok berapa, Katulampa berapa. Udah tahu ukuran-ukurannya,” ujar dia.
Sementara itu, Hanafi, 61 tahun, salah satu tokoh masyarakat yang pernah menjabat sebagai wakil ketua RT, menjelaskan pembagian wilayah dan tingkat risiko banjir di Kebon Pala.
Ia menyebut ada tiga RT yang paling terdampak, yaitu RT 1, RT 2, dan RT 16, dengan jumlah total 150-180 KK.
"Jadi ada dua domisili sini RT 16, RT 1, sama RT 2. Satu lingkup ini tiga RT," kata Hanafi.
Hanafi menjelaskan bahwa dampak banjir sangat bergantung pada status siaga Katulampa.
"Semuanya tergantung. Kalau siaga 2, sekitar RT 16 kena semua. Kalau siaga satu kelelep semua tiga RT," ungkap Hanafi. (cr-4)
