Densus 88 Ungkap 6 Figur yang Menginspirasi Pelaku Ledakan di SMAN 72

Selasa 11 Nov 2025, 19:13 WIB
Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana (kanan) saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025. (Sumber: POSKOTA | Foto: Ali Mansur)

Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana (kanan) saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025. (Sumber: POSKOTA | Foto: Ali Mansur)

KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri memastikan bahwa ledakan yang terjadi di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, bukanlah tindakan terorisme.

Hasil pemeriksaan dan analisis menunjukkan bahwa pelaku yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH) bertindak secara mandiri dan tidak memiliki keterkaitan dengan jaringan teroris mana pun.

Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana menjelaskan, pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi-saksi mengungkap adanya fenomena global yang kini turut memengaruhi perilaku remaja di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hal ini juga diketahui dari pesan yang coba disampaikan oleh ABH yang ditulis di senjata mainannya berupa paras panjang yang ditemukan di lokasi.

Baca Juga: Polisi Tetapkan Terduga Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta sebagai Anak Berkonflik dengan Hukum

“Adanya komunikasi transnasional di dunia maya membuat anak-anak rentan terpapar aliran kekerasan atau ekstremisme secara daring,” ujar Mayndra, saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025.

Menurut Mayndra, dari hasil pendalaman yang dilakukan bersama Direktorat Reserse Kriminal Umum dan hasil gelar perkara yang juga dihadiri BNPT, Kejaksaan Agung, serta pihak terkait lainnya, disimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan pelaku bukan bagian dari aksi terorisme.

Karena memang berdasarkan hasil pemeriksaan juga tidak ditemukan komunikasi atau kegiatan ABH yang mengarah pada jaringan terorisme.

“Tidak ditemukan aktivitas terorisme yang dilakukan ABH. Jadi murni tindakan kriminal umum,” tegas Mayndra.

Mayndra mengungkapkan bahwa di dalam analisis pihaknya, pelaku menunjukkan pola “copycat” atau peniruan dari berbagai kasus kekerasan di luar negeri yang sempat viral di internet.

Beberapa simbol dan tulisan pada perlengkapan airsoft gun yang digunakan pelaku, menurutnya, hanya meniru nama-nama tokoh ekstremis atau ideologi kekerasan yang ditemukan di dunia maya.


Berita Terkait


News Update