POSKOTA.CO.ID - Modus penipuan WhatsApp kini makin beragam. Salah satu yang tengah ramai di Eropa dan mulai mengancam pengguna global adalah penipuan bertajuk “Vote untuk Anakku”.
Meski tampak sederhana, modus ini berhasil membuat ribuan orang kehilangan akses ke akun WhatsApp mereka hanya dalam hitungan detik.
Peneliti keamanan siber dari Bitdefender Labs, Razvan Gabriel Gosa mengungkap bahwa kampanye penipuan ini memanfaatkan psikologi kepercayaan dan empati alih-alih teknik peretasan canggih.
Dilansir dari BelfastLive, modus ini pertama kali menyebar di Eropa dengan memanfaatkan kontes voting palsu berjudul “Vote for My Child” untuk mengambil alih akun pengguna.
Baca Juga: 5 Perbedaan WhatsApp Resmi dan WA GB: Mana yang Paling Aman Digunakan?
Cara Kerja Penipuan “Vote untuk Anakku”
Skemanya sangat meyakinkan, korban akan menerima pesan dari seseorang yang mereka kenal seperti teman, rekan kerja, bahkan keluarga yang meminta bantuan untuk memberikan suara (vote) dalam sebuah kontes anak.
Pesannya biasanya berbunyi:
“Hai! Tolong vote untuk Adeline di kontes ini, dia anak teman dekat saya. Hadiah utamanya beasiswa ke luar negeri. Terima kasih banyak!”
Karena pesan tersebut dikirim oleh kontak yang dikenal, banyak orang langsung mengklik tautan tanpa berpikir panjang.
Link tersebut mengarah ke situs palsu dengan tampilan profesional, misalnya menggunakan domain seperti poldance.top atau thebestdance.top.
Di dalam situs itu, korban diminta memasukkan nomor telepon dan kode verifikasi WhatsApp yang dikirim ke ponsel mereka.
Tanpa disadari, enam digit kode tersebut adalah akses penuh bagi pelaku untuk mengambil alih akun WhatsApp korban.
Tujuan dan Dampak Penipuan
Begitu akun berhasil diretas, pelaku langsung memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan penipuan dengan cara:
Baca Juga: 4 Langkah Efektif Menjaga Keamanan Akun WhatsApp agar Tidak Mudah Disadap
- Mengirim pesan serupa ke semua kontak korban, agar lebih banyak orang terjebak.
- Meminta transfer uang dengan alasan darurat atau penuh empati.
- Menggunakan akun korban untuk aktivitas spam hingga diblokir oleh WhatsApp.
Menurut laporan Bitdefender, kampanye ini berkembang pesat di wilayah Eropa Tengah dan Timur, dengan sebaran terbesar di beberapa wilayah, yaitu:
- Polandia (41 persen)
- Rumania (29 persen)
- Jerman (20 persen)
Selain itu, negara lain seperti Republik Ceko, Italia, dan Austria juga mulai terdampak.
Baca Juga: Waspada SocialSpy WhatsApp, Aplikasi Penyadap yang Justru Bisa Curi Data Pribadi
Dalam dua bulan terakhir saja, pelaku tercatat menggunakan 177 domain palsu dan lebih dari 550 tautan unik untuk menjaring ribuan korban.
Mengapa Banyak Orang Tertipu?
Modus ini sangat efektif karena memanfaatkan tiga hal yang paling kuat menggugah emosi manusia:
- Kedekatan: Pesan datang dari orang yang dikenal.
- Urgensi: Ada ajakan bertindak cepat seperti “vote sekarang” atau “tolong segera kirim uang”.
- Empati: Cerita menyentuh seperti membantu anak mendapatkan beasiswa atau hadiah.
Kombinasi tiga faktor ini membuat korban kehilangan kewaspadaan, bahkan mereka yang terbiasa dengan dunia digital pun bisa terjebak.
Baca Juga: Amankan Privasi Akun WhatsApp, Ini 3 Solusi Agar Tidak Disadap
Kelompok paling rentan adalah orang tua dan lansia, karena mereka lebih mudah percaya pada nama yang dikenal dan jarang memverifikasi pesan mencurigakan.
Tips Mencegah Penipuan WhatsApp
Untuk melindungi diri dari modus “Vote untuk Anakku” dan bentuk penipuan digital lainnya, Bitdefender merekomendasikan beberapa langkah berikut:
- Jangan pernah bagikan kode verifikasi WhatsApp ke siapa pun, termasuk teman atau keluarga.
- Verifikasi permintaan uang melalui panggilan langsung, bukan lewat pesan.
- Laporkan pesan mencurigakan melalui menu More → Report (Laporkan) di WhatsApp.
- Jika akun sudah diretas, segera minta kode verifikasi baru dan hubungi [email protected].
- Beri tahu semua kontak agar mereka tidak ikut tertipu.
Waspadai setiap pesan yang meminta kode OTP atau tautan mencurigakan, bahkan jika berasal dari orang yang dikenal.
Kewaspadaan digital kini bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan di era serba online seperti sekarang.
