Daftar Barang Mewah Ahmad Sahroni Dijarah Massa, Jam Tangan Rp11,7 Miliar Jadi Sorotan

Minggu 31 Agu 2025, 09:10 WIB
Jam Tangan Richard Mille Diperkirakan senilai Rp11,7 miliar. (Sumber: X/@is_pelssy)

Jam Tangan Richard Mille Diperkirakan senilai Rp11,7 miliar. (Sumber: X/@is_pelssy)

POSKOTA.CO.ID - Pada Sabtu, 30 Agustus 2025, suasana di kawasan Kebon Bawang, Tanjung Priok, mendadak ricuh. Rumah Ahmad Sahroni, Wakil Ketua Komisi III DPR RI sekaligus politisi NasDem, menjadi sasaran amarah massa. Ratusan warga mendatangi kediaman tersebut, merangsek masuk, lalu membawa keluar berbagai barang berharga.

Barang-barang yang diambil bukan sekadar kebutuhan pokok, melainkan koleksi mewah milik Sahroni dan keluarganya. Di antaranya jam tangan Richard Mille senilai Rp11,7 miliar, sebuah piano besar, action figure Iron Man seharga lebih dari Rp100 juta, serta koleksi tas Louis Vuitton milik istrinya.

Baca Juga: MRT Jakarta Kembali Normal, Stasiun Istora Mandiri Dibuka Hari Ini 31 Agustus 2025

Barang-Barang yang Dijarah: Simbol Kemewahan

Barang-barang yang hilang dalam penjarahan ini menjadi sorotan publik karena nilainya fantastis. Koleksi mewah itu kemudian dipandang sebagai simbol jurang kesenjangan antara elite politik dan rakyat biasa.

  1. Jam Tangan Richard Mille
    Diperkirakan senilai Rp11,7 miliar, jam ini menjadi pusat perhatian. Richard Mille dikenal sebagai merek eksklusif yang identik dengan gaya hidup miliarder.
  2. Piano Besar
    Piano dengan nilai pasar sekitar Rp20 juta, turut diangkut warga. Meski bukan barang supermahal, instrumen ini menjadi simbol gaya hidup berkelas.
  3. Action Figure Iron Man Seukuran Manusia
    Koleksi langka ini diperkirakan bernilai lebih dari Rp100 juta. Kehadirannya menambah nuansa kontras antara dunia fantasi elite dengan realitas pahit rakyat kecil.
  4. Tas Louis Vuitton
    Model Monogram Vernis Brea MM dan Damier Ebbene Bergamo MM, masing-masing bernilai Rp7 juta dan Rp10 juta. Meski sudah tidak diproduksi lagi, tas-tas ini tetap dianggap sebagai simbol status sosial.

Ketika Kemewahan Menjadi Pemicu Amarah

Kasus ini lebih dari sekadar penjarahan. Ia membuka luka lama: kesenjangan sosial yang kian melebar. Dalam masyarakat yang masih bergulat dengan inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan pengangguran, melihat koleksi barang mewah di rumah seorang wakil rakyat bisa menimbulkan rasa ketidakadilan.

Barang-barang tersebut bukan sekadar properti pribadi, melainkan “wajah nyata” jurang sosial yang semakin dalam.

Rakyat tidak sekadar marah karena ucapan kontroversial Ahmad Sahroni, tetapi juga karena simbol kemewahan yang dianggap tidak peka terhadap penderitaan publik.

Krisis Kepercayaan Terhadap DPR

Peristiwa ini menandakan bahwa kritik terhadap DPR telah mencapai titik ekstrem. Selama ini, masyarakat sering menyuarakan ketidakpuasan melalui media sosial atau demonstrasi damai. Namun, penjarahan rumah Sahroni menegaskan bahwa kemarahan publik bisa berubah menjadi tindakan langsung ketika suara mereka tidak didengar.

Di balik aksi massa ini, terdapat pesan kuat: DPR sudah kehilangan sebagian besar legitimasi moral di mata rakyat. Bagi banyak orang, DPR bukan lagi lembaga aspiratif, melainkan simbol keterasingan.

Sebagai manusia, kita perlu melihat kasus ini dengan hati nurani. Penjarahan bukanlah solusi. Barang mewah yang dirampas mungkin memberikan kepuasan sesaat, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan: ketidakadilan sosial, komunikasi politik yang buruk, dan hilangnya kepercayaan.

Di sisi lain, para pemimpin juga perlu bercermin. Kehidupan glamor yang dipamerkan di tengah kesulitan rakyat hanya akan memperlebar jurang. Demokrasi tidak hanya menuntut aturan, tetapi juga kepekaan dan empati.


Berita Terkait


News Update