Waspada! 5 Negara Asia Alami Lonjakan Kasus Covid-19 Varian Baru di 2025, Perlukah Indonesia Waspada?

Jumat 06 Jun 2025, 14:00 WIB
Illustrasi virus Covid-19, Subvarian XDV dominasi lonjakan kasus di Cina, sementara Thailand hadapi XEC. Ketahui gejala terbaru dan protokol kesehatan dari Kemenkes RI. (Sumber: Pixabay)

Illustrasi virus Covid-19, Subvarian XDV dominasi lonjakan kasus di Cina, sementara Thailand hadapi XEC. Ketahui gejala terbaru dan protokol kesehatan dari Kemenkes RI. (Sumber: Pixabay)

Singapura melaporkan lonjakan 28 persen dalam sepekan, dengan rata-rata harian mencapai 14.200 kasus. Rawat inap juga naik 30 persen, diduga akibat penurunan kekebalan masyarakat. Otoritas setempat menegaskan bahwa varian baru tidak lebih berbahaya dibanding masa puncak pandemi.

  1. India: Kerala dan Delhi Jadi Episentrum

Kasus aktif di India mencapai 4.026 pada akhir Mei 2025, dengan Kerala sebagai penyumbang tertinggi (1.416 kasus). Delhi mencatat kenaikan signifikan (124 kasus baru), sementara Maharashtra dan Benggala Barat juga menunjukkan tren meningkat.

  1. Cina: Infeksi Melonjak Tiga Kali Lipat

Cina menghadapi gelombang baru dengan 168.507 kasus pada April 2025, naik hampir 200 persen dari bulan sebelumnya. Subvarian XDV mendominasi, dan pakar menduga penurunan imunitas menjadi pemicu utamanya.

  1. Thailand: Musim Hujan dan Liburan Perparah Penyebaran

Thailand mencatat 14.751 kasus baru dalam lima hari pertengahan Mei, dengan satu kematian. Subvarian XEC (37,5 persen) dan JN.1 (12,5 persen) paling banyak terdeteksi. Otoritas menyebut faktor musim hujan dan mobilitas penduduk mempercepat penularan.

Baca Juga: Waspada Lonjakan Covid-19 di Asia Tenggara, Dedi Mulyadi Ingatkan Warga Jabar untuk Tidak Panik!

Indonesia Siagakan Protokol Kesehatan

Meski kasus domestik turun drastis, hanya tiga kasus pada minggu ke-20 2025, Kemenkes mengeluarkan Surat Edaran (SR.03.01/C/1422/2025) untuk mengantisipasi risiko.

Dirjen P2P Murti Utami meminta seluruh fasilitas kesehatan meningkatkan pengawasan gejala mirip flu (ILI) dan pneumonia, serta memperkuat kapasitas lab dan tenaga medis.

"Pelaporan melalui aplikasi SKDR wajib dilakukan dalam 24 jam," tegasnya. Varian MB.1.1 (turunan Omicron) masih dominan di Indonesia, tetapi kewaspadaan terhadap impor varian baru terus ditingkatkan.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Kembali Naik di Indonesia, Perlukah Vaksinasi Ulang? Ini Kata Kemenkes

Perlunya Vaksinasi Booster dan Prokes Ketat

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Rizal, menekankan pentingnya booster untuk kelompok rentan. "Varian baru mungkin lebih mudah menular, tetapi vaksinasi tetap efektif mencegah gejala berat," ujarnya.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara Asia memperkuat surveilans genomik dan berbagi data transparan untuk memantau mutasi virus.

Lonjakan kasus di Asia menjadi pengingat bahwa Covid-19 belum berakhir. Masyarakat diimbau tetap disiplin prokes, terutama saat bepergian ke negara-negara dengan tren kenaikan.


Berita Terkait


News Update