GARUT, POSKOTA.CO.ID - Tragedi ledakan saat pemusnahan amunisi kedaluwarsa di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban.
Dalam pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, keluarga korban menyampaikan keberatan atas anggapan yang beredar bahwa kerabat mereka merupakan pemulung barang sisa ledakan.
Peristiwa yang terjadi pada Senin, 12 Mei 2025 itu menewaskan sejumlah warga sipil yang, menurut keterangan keluarga, telah lama bekerja membantu proses pemusnahan amunisi bersama TNI.
Salah satu perwakilan keluarga korban, Agus, menjelaskan bahwa adiknya, Rustiwan, bukanlah pemulung seperti yang diberitakan, melainkan pekerja yang sudah lebih dari satu dekade terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Adik saya sudah bekerja selama 10 tahun di sana. Dia bukan pemulung besi, tetapi pekerja resmi yang membantu dalam pemusnahan amunisi,” ujar Agus di hadapan Gubernur Dedi.
Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa para korban adalah pekerja yang secara resmi membantu TNI AD dalam tugas pemusnahan amunisi. Ia menyebut insiden ini sebagai kecelakaan kerja yang seharusnya tidak terjadi.
“Setelah saya telusuri, korban ternyata adalah pekerja yang selama ini terlibat dalam proses pemusnahan. Karena itu, kasus ini masuk dalam kategori kecelakaan kerja,” kata Dedi Mulyadi.
Di tengah suasana duka, Gubernur Dedi juga menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga korban. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam menangani material berbahaya.
“Semoga peristiwa ini menjadi yang terakhir, dan jadi pelajaran untuk meningkatkan kewaspadaan bersama. Saya turut berduka cita, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujarnya.