Worldcoin dan World App Dilarang di Beberapa Negara: Bahaya di Balik Janji Uang Instan Rp800.000

Senin 05 Mei 2025, 12:45 WIB
Worldcoin dilarang di beberapa negara! Ini alasan di balik larangan global terhadap pemindaian iris ini dan bahaya bagi pengguna. (Sumber: X/@bukanpamanmu)

Worldcoin dilarang di beberapa negara! Ini alasan di balik larangan global terhadap pemindaian iris ini dan bahaya bagi pengguna. (Sumber: X/@bukanpamanmu)

Baca Juga: Siapa Pemilik World App? Netizen Curiga Data Retina Dihargai Hanya Rp800 Ribu

Eksploitasi di Negara Berkembang: Iming-iming Uang, Ancaman Privasi

Investigasi mengungkap bahwa Worldcoin secara agresif menargetkan negara berkembang, di mana masyarakat rentan tergiur imbalan finansial.

Di Filipina (Februari 2025), ribuan orang mengantre untuk memindai iris mereka demi USD 50 (Rp800.000), tanpa memahami risiko jangka panjang.

Kasus serupa terjadi di Indonesia, Kenya, Sudan, dan Chile, di mana banyak warga tidak diberikan informasi jelas tentang penggunaan data mereka. Di Sudan, orang-orang bahkan dibujuk dengan hadiah seperti AirPods agar bersedia memindai iris mereka.

"Ini adalah bentuk kolonialisme digital," kritik seorang aktivis privasi asal Argentina. "Data biometrik warga negara miskin dieksploitasi untuk keuntungan perusahaan teknologi Barat."

Keamanan Data Dipertanyakan: Bocor dan Potensi Penyalahgunaan

Meski World App mengklaim data pengguna aman, kebocoran keamanan telah terjadi. Pada Mei 2023, TechCrunch melaporkan bahwa kredensial login operator Worldcoin diretas, meski perusahaan menyatakan tidak ada data pengguna yang bocor.

Yang lebih mengkhawatirkan, Edward Snowden, whistleblower NSA, pernah memperingatkan bahwa hash biometrik Worldcoin bisa dicocokkan dengan scan iris di masa depan, menciptakan database global yang rentan disalahgunakan. "Tubuh manusia bukan tiket yang bisa dilubangi," tegas Snowden pada 2021.

Baca Juga: Scan Retina Dibayar World App Rp200 Ribu-Rp800 Ribu, Skeptisme dan Potensi Penyalahgunaan Data Privasi

Distribusi Token yang Tidak Adil: Siapa yang Diuntungkan?

Worldcoin mengklaim ingin menciptakan ekonomi digital yang inklusif, tetapi distribusi token Worldcoin (WLD) justru menguntungkan segelintir pihak. Dari 10 miliar token WLD yang akan dirilis dalam 15 tahun:

  • 20 persen dialokasikan untuk investor dan karyawan.
  • Hanya sebagian kecil untuk pengguna biasa.

"Ini bukan inklusi keuangan, tapi kapitalisme data yang eksploitatif," kritik seorang analis kripto.

Tools for Humanity bersikeras bahwa World App mematuhi semua hukum privasi dan bahwa pemindaian iris diperlukan untuk membedakan manusia dari bot di era AI. Namun, klaim ini bertentangan dengan temuan regulator di berbagai negara.

Misalnya, GDPR Uni Eropa mewajibkan hak penghapusan data, tetapi Worldcoin mengatakan kode iris tidak bisa dihapus karena diperlukan untuk verifikasi. "Ini jelas pelanggaran," tegas seorang pengacara privasi di Berlin.

Ancaman Lebih Besar daripada Manfaat?


Berita Terkait


News Update