POSKOTA.CO.ID - Banyaknya rentetan kasus siswa keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di berbagai daerah.
Gejala yang dialami para siswa seperti gejala pusing, mual dan muntah setelah menyantap MBG.
Keracunan pernah terjadi di Bombana, Sulawesi Tenggara disebutkan Kepala Dinas Kesehatan setempat menyatakan keracunan massal berasal dari kualitas ayam yang sudah busuk terdapat dalam menu MBG,
Sementara di Bandung, tercatat 342 siswa mengalami gejala keracunan yang sama. Namun tidak ada siswa yang sampai harus dirawat di rumah sakit.
Baca Juga: Pekan Ini Polres Jaksel Panggil Yayasan MBN Terkait Dugaan Penggelapan Dana MBG
Terbaru, kejadian keraunan ini terjadi di Tasikmalaya dan terdapat 24 siswa yang menjalani pemeriksaan akibat keracunan makanan.
Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa sistem distribusi makanan dalam skala besar memerlukan pengawasan ketat, terutama pada aspek penyimpanan dan kebersihan.
Selain itu, perhatian terhadap suhu penyajian dan sanitasi dapur bisa berdampak besar dalam mencegah kejadian serupa.
Baca Juga: Polisi Temukan Tiga Jenis Bakteri di Wadah Makanan Program MBG Cianjur Penyebab Keracunan Massal
Pakar UGM Ungkap Hal Ini
Banyaknya kasus keracunan karena MBG. Dietisien dari Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda makanan yang sudah basi atau tidak higienis.
Ia menjelaskan bahwa makanan basi sering kali dapat dikenali melalui perubahan bau, tekstur dan warna.
Leiyla menghimbau agar masyarakat membiasakan diri untuk mencium aroma makanan terlebih dahulu sebelum mengonsumsinya.
Deteksi dini lewat pancaindra sering kali cukup untuk mencegah konsumsi makanan yang berisiko.
Baca Juga: Makan Beracun Gratis Trending, Buntut Puluhan Siswa MAN 1 Cianjur Keracunan dari Program MBG
“Makanan seperti nasi, mie dan lontong yang kaya karbohidrat akan mudah basi jika disimpan terlalu lama di suhu ruang. Tanda-tandanya antara lain berbau asam, berlendir atau muncul jamur,” kata Leiyla dikutip dari laman UGM pada Senin, 5 Mei 2025.
Keracunan massal dalam kasus MBG diduga kuat terkait dengan buruknya penanganan makanan, terutama dalam aspek penyimpanan dan distribusi.
Leiyla mengatakan bahwa makanan yang disajikan dalam jumlah besar harus memenuhi standar higienitas yang ketat, termasuk pemakaian penutup makanan, penyimpanan di suhu yang tepat serta kebersihan alat dan tenaga penyaji.
“Kalau makanan disimpan lebih dari empat jam tanpa penghangan atau pendingin, risiko pertumbuhan bakteri akan meningkat drastis,” tambahnya.
Baca Juga: Puluhan Siswa MAN 1 Cianjur Keracunan Makanan dari Program MBG, Masyarakat Murka
Menurut Leiyla makanan berbahan dasar daging, ikan, dan produk susu menjadi kelompok yang paling rentan.
Tanda-tanda kerusakan pada olahan daging misalnya bisa dikenali dari bau amis menyengat, warna kehijauan, serta tekstur yang berlendir.
Ia pun menegaskan bahwa bahan pangan hewani harus disimpan di suhu dingin dan dimasak dengan suhu cukup tinggi untuk membunuh bakteri patogen.
“Kalau sayur dan buah yang busuk dapat dilihat dari bentuknya layu, lembek atau berlendir. Kulit buah juga mengkerut serta timbul jamur berwarna putih atau hijau,” ungkapnya.
Baca Juga: Lagi! Diduga Alami Keracunan Makanan dari Program MBG, 38 Siswa di Cianjur Dilarikan ke Rumah Sakit
Selain itu, Leiyla juga menekankan bahwa masyarakat perlu waspada terhadap makanan yang disajikan terbuka, dikerumuni lalat atau ditangani oleh petugas yang tidak menggunakan sarung tangan.
Kredibilitas penyedia makanan bisa menjadi indikator awal apakah proses pengolahan mereka mengikuti standar keamanan pangan.
“Kondisi dapur dan alat masak pun harus menjadi perhatian, jangan ragu untuk mempertanyakan kebersihan makanan, apalagi jika dikonsumsi bersama-sama dalam jumlah besar,” jelasnya.
“Yang paling penting sekarang, justru literasi pangan sehat harus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat agar tidak mudah menjadi korban dari kelalaian pihak lain,” pungkasnya.
