POSKOTA.CO.ID - Pertamina, perusahaan minyak dan gas nasional Indonesia, sering kali menjadi sorotan karena kasus korupsi yang melibatkannya. Kasus terbaru yang ramai dibicarakan adalah kasus Pertamax.
Namun, ini bukan pertama kalinya Pertamina terjerat skandal korupsi besar. Sejarah mencatat, di era Orde Baru (Orba), Pertamina pernah menjadi pusat skandal korupsi yang begitu besar hingga membuat tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta dan Hoegeng enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.
Kenapa? Karena ada pejabat Pertamina yang terlibat korupsi dimakamkan di sana. Siapa dan bagaimana kisah korupsi ini terjadi? Mari kita telusuri.
Pertamina di Era Orba: Solo Carry Ekonomi Indonesia
Melansir dari platform X akun @momonhistory, pada masa Orde Baru, sektor minyak dan gas (migas) adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Melonjaknya harga minyak dunia (oil boom) pada tahun 1970-an membuat Pertamina, yang saat itu dipimpin oleh Ibnu Sutowo, meraup keuntungan besar.
Pertamina menjadi penopang utama pembangunan negara di berbagai bidang, mulai dari infrastruktur hingga pendidikan.
Namun, di balik kesuksesan itu, ada masalah besar yang mengintai. Pertamina bergerak sangat tertutup. Perusahaan migas nasional ini menjalankan operasinya tanpa sepengetahuan pemerintah maupun DPR.
Ibnu Sutowo, sang direktur utama, menjalankan Pertamina bak perusahaan pribadi. Bahkan, sebelum oil boom terjadi, ia sudah dituduh melakukan penyelewengan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Gaya Hidup Sultan dengan Gaji Pas-pasan
Ibnu Sutowo, yang juga dikenal sebagai kakek mertua aktris Dian Sastrowardoyo, hidup bak sultan meski gajinya hanya 300 USD per bulan.
Ia mengendarai Rolls Royce, memeriksakan giginya di Amerika Serikat, dan gemar memberikan hadiah mewah kepada kolega-koleganya. Media masa itu menjulukinya "The Untouchable Man" karena kekuasaannya yang begitu besar dan sulit disentuh.
Kekuasaan Ibnu Sutowo semakin tak terbendung saat Pertamina melakukan ekspansi besar-besaran ke berbagai bidang usaha.
Namun, ekspansi ini tidak diimbangi dengan transparansi dan akuntabilitas. Akibatnya, korupsi dan mismanajemen merajalela di tubuh Pertamina.
Krisis Keuangan Pertamina: Utang Membengkak hingga 10 Miliar USD
Bom waktu itu akhirnya meledak pada tahun 1975. Pertamina mengalami krisis keuangan parah setelah gagal membayar utang jatuh tempo sebesar 100 juta USD.
Setelah ditelusuri, ternyata utang Pertamina sudah membengkak hingga 10 miliar USD—angka yang bahkan melampaui APBN Indonesia saat itu.
Pemerintah pun turun tangan. Tim khusus dibentuk untuk bernegosiasi dengan para kreditur. Berkat upaya tersebut, utang Pertamina berhasil ditekan menjadi 6,2 miliar USD.
Selain itu, pemerintah juga menghentikan proyek-proyek ambisius Pertamina dan menjual sebagian asetnya untuk menutupi kerugian.
Ibnu Sutowo Dicopot, Tapi Tak Pernah Diproses Hukum
Pada tahun 1976, Ibnu Sutowo akhirnya dicopot dari posisinya sebagai direktur utama Pertamina. Namun, ia tidak pernah dibawa ke meja hijau.
Laporan Komisi IV, yang dibentuk khusus untuk menyelidiki dugaan korupsi di Pertamina sejak 1970, tidak mampu menyeretnya ke pengadilan. Mohammad Hatta, yang saat itu menjadi penasihat Komisi IV, bahkan enggan dimakamkan di TMP Kalibata karena ada pejabat Pertamina yang terlibat korupsi dimakamkan di sana.
Salah satu pejabat yang dimaksud adalah Ahmad Thahir, asisten Ibnu Sutowo di Pertamina. Thahir dimakamkan di TMP Kalibata karena memiliki gelar Bintang Gerilya.
Hal ini membuat Hoegeng, mantan Kapolri, dan Mochamad Jasin, mantan Wakil KSAD, juga menolak dimakamkan di TMP Kalibata. Hoegeng bahkan dengan tegas menyatakan, "Saya tidak mau sekuburan dengan koruptor."
Warisan Ibnu Sutowo: Bisnis Keluarga yang Tetap Eksis
Meski dicopot dari posisinya, Ibnu Sutowo tetap menjadi jenderal kesayangan Presiden Soeharto. Tali bisnis antara keluarga mereka terus terjalin hingga keduanya meninggal.
Nama Ibnu Sutowo pun tetap "bersih" dari tudingan korupsi. Kasusnya hanya dilabeli sebagai bentuk mismanajemen atau salah urus, bukan pelanggaran hukum.
Gurita bisnis keluarga Ibnu Sutowo terus eksis dan dinikmati oleh keturunannya hingga sekarang. Meski demikian, kisah korupsi di Pertamina era Orba tetap menjadi catatan kelam dalam sejarah perusahaan migas nasional ini.
Kasus korupsi Pertamina di era Orde Baru menjadi bukti bahwa korupsi bukanlah hal baru di Indonesia. Meski waktu terus bergulir, kisah ini tetap relevan untuk diingat sebagai pelajaran berharga.
Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prioritas utama dalam mengelola perusahaan negara, agar sejarah kelam seperti ini tidak terulang kembali.
