Tidak hanya itu, operasi penyelamatan di K2 sangat sulit dilakukan. Hanya militer Pakistan yang memiliki izin untuk menerbangkan helikopter di area ini karena dekat dengan wilayah konflik.
Jika seorang pendaki mengalami cedera atau sakit parah, kemungkinan selamatnya sangat kecil.
Baca Juga: Sal Priadi Khawatir dengan Kondisi Fiersa Besari atas Insiden Puncak Cartensz
Cuaca yang Tidak Bisa Diprediksi
Salah satu faktor terbesar yang membuat K2 begitu berbahaya adalah cuacanya yang ekstrem dan sulit diprediksi.
Letaknya yang lebih jauh ke utara dibandingkan Everest membuatnya lebih rentan terhadap hembusan angin kencang dari jet stream.
Angin ini bisa mencapai kecepatan badai dan dengan mudah menjatuhkan pendaki dari jalurnya.
Selain itu, risiko longsoran salju dan es sangat tinggi, seperti yang terjadi pada Tragedi K2 tahun 2008, di mana longsoran es menghancurkan tali pendaki dan menyebabkan 11 orang tewas dalam satu hari.
Baca Juga: Fiersa Besari Minta Netizen untuk Tidak Berkomentar Nyinyir soal Insiden Puncak Cartensz
Jalur Pendakian yang Sangat Teknis
Pendakian K2 lebih sulit dibandingkan Everest karena jalurnya yang curam dan teknis. Jalur paling umum, Abruzzi Spur, memiliki berbagai tantangan berat seperti:
- House’s Chimney: Celah batu vertikal yang sulit dilewati dengan sepatu crampon.
- Black Pyramid: Formasi batu setinggi hampir 400 meter yang sangat sulit didaki.
- The Bottleneck: Jalur sempit di bawah bongkahan es raksasa (serac) yang bisa runtuh kapan saja, seperti yang menyebabkan tragedi 2008.
Setelah mencapai puncak, perjalanan belum selesai. Faktanya, 80% kematian di K2 terjadi saat turun, karena pendaki sudah kelelahan, mengalami hipotermia, dan kehilangan konsentrasi.
Baca Juga: Tragedi di Puncak Carstensz: Fiersa Besari Ungkap Kondisi dan Sampaikan Ucapan Duka Cita
Semakin Populer, Tapi Tetap Mematikan
Dalam beberapa tahun terakhir, K2 mulai menarik lebih banyak pendaki karena rute pendakiannya semakin "terbantu" oleh kehadiran Sherpa, seperti di Everest.
