Meski pemerintah telah memasang dua pompa air di lokasi rawan banjir, Waryono menilai upaya tersebut tidak efektif.
Baca Juga: Dilanda Banjir Setelah Diguyur Hujan Ekstrem, 883 Jiwa di Jakarta Utara Masih Mengungsi
"Pompa air tidak berfungsi karena air yang seharusnya dibuang ke kali justru meluap kembali," ujarnya.
Namun, ia mengakui bahwa pengerukan sedimen di Kali Angke saat Pilkada Wali Kota Depok membantu mengurangi risiko banjir.
"Pengerukan sedalam hampir 2 meter sepanjang 300 meter ini cukup efektif, sehingga banjir tahun ini tidak terlalu parah," tambahnya.
Sementara itu, banjir juga mengancam wilayah RT 3 dan 4 RW 09, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan.
Ketua RW 09, Bagus Purwantara, 51 tahun, mengatakan bahwa penyebab utama banjir di daerahnya adalah penyempitan dan pendangkalan Kali Putih.
"Setiap kali hujan deras, 60 Kepala Keluarga di RT 4 dan 70 Kepala Keluarga di RT 3 paling terdampak akibat luapan Kali Putih. Ditambah kiriman air dari Kali Angke, banjir bisa masuk ke rumah warga," jelas Bagus saat ditemui di lokasi Kali Putih, Pengasinan.
Menurutnya, Kali Putih sudah puluhan tahun tidak pernah dinormalisasi, sehingga mengalami pendangkalan.
"Selain itu, masih banyak bagian kali yang belum diturap, sehingga jika air naik, sering terjadi longsor," tambahnya.
Bagus berharap pemerintah Kota Depok segera melakukan normalisasi Kali Putih dengan pengerukan sedimen serta perbaikan turap agar banjir dapat diminimalisir.
