Dosen Berharap BKD Lebih Ringan dan Proses Sertifikasi Sederhana

Rabu 01 Jan 2025, 21:08 WIB
Ilustrasi dosen sedang mengajar mahasiswa. (Sumber: Pixabay/ASPhotohrapy)

Ilustrasi dosen sedang mengajar mahasiswa. (Sumber: Pixabay/ASPhotohrapy)

POSKOTA.CO.ID - Dosen atau tenaga pengajar di perguruan tinggi Indonesia tidak sekadar mengajar mahasiswa, tetapi juga urusan administratif sebagaimana Beban Kerja Dosen (BKD).

Pada 2025, BKD diharapkan tidak lagi menjadi momok bagi para dosen, terutama dosen honorer. Itu seperti diungkapkan dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Yudril Basith.

"Di tahun baru ini, saya sebagai dosen berharap BKD bisa lebih ringan lagi. Karena tidak dipungkiri urusan administrasi ini banyak menyita waktu dan tenaga, apalagi data yang dilaporkan cukup banyak, kadang harus lembur," kata Yudril saat dihubungi, Rabu, 1 Januari 2025.

Calon doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) itu mengaku optimistis pemerintah akan melakukan perbaikan sistem BKD pada 2025 untuk memudahkan kerja dosen sehingga terhindar dari hambatan teknis.

Baca Juga: Dosen UIN Bandung Tewas dalam Kecelakaan Maut di Tol Cipularang KM 86

Menurutnya, aturan BKD bisa lebih fleksibel, transparan, dan akuntabel, baik terkait kenaikan pangkat atau jabatan fungsional dosen.

"Pemerintah harus berinovasi, mereka punya BRIN ya berdayakan dengan maksimalkan. Saya optimis pemerintahan baru dan menteri ini bisa membawa perbaikin," ucapnya.

Selain itu, Yudril juga berharap birokasi sertifikasi dosen (serdos) dapat disederhanakan. Sertifikasi merupakan sertifikat pendidik yang bertujuan untuk menilai profesionalisme dan kelayakan dosen dalam melaksanakan tugasnya.

Seperti halnya, menurut Yudril, proses serdos juga tidak semudah yang dijanjikan pemerintah. Proses sedos memakan waktu, lalu banyak dokumen yang harus disiapkan, dan pastinya membutuhkan biaya.

Baca Juga: Gara-gara Hina Dosen, Rektor UIN Riau Ditetapkan Tersangka oleh Polda Riau

Belum lagi, kata dia, adanya tunggakan pembayaran Serdos di perguruan tinggi swasta.

"Sertifikasi sangat-sangat dibutuhkan, terutama untuk dosen yang masih honorer seperti saya ini," kata Yudril.

Sementara itu, seorang guru Sekolah Islam Exiss Abata Jakarta Barat, Nita Afsarijuga berharap bisa menjadi pendidik yang lebih baik untuk anak-anak didiknya. Dengan demikian, ia dapat memotivasi anak muridnya untuk belajar lebih giat lagi.

"Saya berharap di tahun 2025, saya dapat menjadi guru yang inspiratif, memotivasi dan membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas, kreatif, berakhlak baik dan siap menghadapi tantangan global.

Baca Juga: Dilantik Jadi Anggota DPRD Termuda, Netizen Kuliti Sosok Rizqi Iskandar hingga Sang Dosen Ikut Berkomentar Jadi Viral

Kemudian, perempuan asal Kudus itu juga ingin menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, inklusif dan membangun hubungan baik dengan siswa, orang tua dan masyarakat.

Menurutnya menjadi guru, khususnya untuk anak-anak usia dasar tidak hanya sekedar mengajar tapi juga bisa menjadi teman yang baik bagi-bagi siswa.

"Semoga saya dapat menjadi teladan yang baik dan membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan," harap Nita.


Berita Terkait


News Update