Dengan begitu setidaknya kita dapat lebih mencerna, tidak grusa grusu terhadap hasil yang telah kita perbuat. Mengingat seperti telah disebutkan bentangan jalan masih panjang dan penuh liku yang harus dilalui.
Berbagai problema kehidupan berbangsa dan bernegara masih menghadang.
Bukan saja soal angka kemiskinan yang masih di atas 25 juta jiwa, belum lagi yang setengah miskin dan rentan menjadi miskin yang jumlahnya cukup besar. Masih tingginya angka pengangguran 7,86 juta orang, belum yang setengah pengangguran atau pengangguran terselubung.
Masih terkendalanya pemerataan hasil hasil pembangunan, kesenjangan sosial, masalah stunting dan masih banyak lagi.
Ini persoalan mendasar yang memerlukan energi besar untuk mengatasinya.Tidak cukup dengan satu kekuatan atau sekelompok kekuatan besar, tetapi perlu menyatukan semua kekuatan ekonomi, sosial dan politik.
Bicara soal kekuatan ekonomi berarti soal aset negara, kekayaan sumber daya alam. Bagaimana mengelolanya dan siapa yang mengolah dan mengelolanya untuk kesejahteraan rakyat.
Kekuatan sosial menyangkut kualitas SDM, juga modal sosial berupa etika, norma, keunggulan jati diri, nilai nilai luhur, termasuk adat dan budaya yang tidak dimiliki bangsa lain. Kekuatan politik, jelas menyangkut dukungan parpol beserta para kadernya yang ada di parlemen.
Semua kekuatan itu harus dikolaborasikan, disinergikan, dan diselaraskan dengan satu tujuan, demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Bukan demi pejabat, konglomerat, kerabat dan demi kelompok yang lain.
Yang diperlukan, penyatuan kekuatan besar ini jangan kemudian menciptakan zona nyaman dan cepat berpuas diri. Dengan cepat berpuas diri, sama artinya menghilangkan sisa potensi yang dimiliki.
Dengan cepat berpuas diri membuat kita malas untuk berbuat lebih baik lagi, sementara kemampuan untuk merengkuh peluang dimiliki, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom Kopi Pagi di media ini.
Sifat cepat puas diri menjadikan kita terlena, padahal keberhasilan yang sesungguhnya ada di ujung perjalanan panjang. Bukan sekarang. Tapi nanti. Mari kita lewati dengan penuh kesadaran diri. (Azisoko)
