38 Orang Tewas dan 52 Lainnya Luka-Luka Dalam Bentrokan Komunal terkait Tanah di Sudan Selatan

Jumat 02 Feb 2024, 09:35 WIB
38 Orang Tewas dan 52 Lainnya Luka-Luka Dalam Bentrokan Komunal terkait Tanah di Sudan Selatan (Fto: Arab News)

38 Orang Tewas dan 52 Lainnya Luka-Luka Dalam Bentrokan Komunal terkait Tanah di Sudan Selatan (Fto: Arab News)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Penduduk daerah rawa di Sudan Selatan bertempur dengan penggembala ternak yang pindah untuk mencari air serta padang rumput selama musim kemarau. Sedikitnya 38 orang tewas dan 52 lainnya luka-luka atas insiden tersebut.

Melansir ABC News, Jumat (2/2/2024), pertempuran dimulai sejak Rabu dan semakin tengang pada Kamis (1/2/2024) malam. Para pejabat kemudian melaporkan hal tersebut sebagai bentrokan dari kedua komunal tersebut.

Menteri Informasi Negara Bagian Warab, William Wol Mayom mengatakan bahwa pertempuran tersebut terjadi di daerah Alor, yang terletak di negara bagian Lakes dan berbatasan dengan bagian Warab dan Unity.

Ia menjelaskan, pasukan keamanan langsung dikerahkan ke wiliyah tersebut untuk mengamankan sekaligus menenangkan situas dan memindahkan para penggembala dari lahan basah yang diselenggarakan.  

“Kekerasan telah mereda, tetapi bentrokan kecil masih dilaporkan terjadi di daerah rawa-rawa yang sulit diakses dan korban jiwa tidak dapat diverifikasi sepenuhnya," kata Mayom.

Juru Bicara Kepolisian Lakes, Mayor Elijah Mabor Makuach menyatakan, 19 dari korban tewas dan 17 korban luka-luka merupakan warga sipil Warab. Sedangkan, 19 dari korban tewas lainnya dan 35 korban luka-luka lainnya berasa dari Lakes.

Makuach menjelaskan, para penggembala muda dari Warrap bermigrasi ke daerah Alor dengan ternak mereka dua minggu yang lalu dan mulai membakar semak belukar dan tempat penampungan sementara penduduk. 

Kemudaian, para penggembala itu, kata Makuach, mencari padang rumput dan air di daerah rawa-rawa Alor.

Pertumpahan darah terjadi empat hari setelah sedikitnya 52 orang, termasuk seorang penjaga perdamaian PBB, terbunuh dan 64 lainnya terluka oleh orang-orang bersenjata yang menyerang penduduk desa di Abyei, sebuah wilayah kaya minyak yang diklaim oleh Sudan dan Sudan Selatan. 

Para pejabat mengatakan bahwa kekerasan juga muncul akibat sengketa tanah.


Berita Terkait


News Update