JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Teka-teki pelaku penembakan di MUI akhirnya terungkap. Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi menyebutkan, bahwa pelaku Mustofa (60 tahun), ternyata sudah mengaku menjadi wali nabi sejak 1997 silam.
Adapun pengungkapan sosok dan rekam jejak pelaku penembakan di MUI ini didapat oleh Polda Metro Jaya berdasarkan keterlibatan berbagai ahli dan pihak, untuk menganalisis delik atau tindak pidana yang terjadi.
Menurut Hengki, Mustofa si pelaku penembakan di MUI berdasarkan hasil penyelidikan Densus 88 Antiteror Mabes Polri, tidak masuk dalam jaringan teror manapun.
Aksinya juga disebutkan tidak terkooptasi dengan ideologi agama yang bersifat ekstrem. Serta tak ada aktor di belakangnya. Hal ini sejalan dengan hasil pemeriksaan terhadap 39 saksi, baik internal MUI Pusat, MUI Lampung, warga sekitar, dan sebagainya.
"Bahwa hasil penyelidikan kami terhadap beberapa saksi-saksi, kita dapatkan bahwa tersangka sudah memulai menulis surat yang ditujukan ke pemerintah daerah kecamatan, kabupaten, sampai ke presiden sejak 2003," kata Hengki dalam keterangannya di Polda Metro Jaya, Jumat 5 Mei 2023.
Mustofa juga disebut pernah menyampaikan aspirasinya di DPRD Lampung pada 2016 lalu, di mana ketika itu dia melakukan tindak pidana perusakan dan sudah divonis 3 bulan di Pengadilan Negeri setempat.
"Artinya kalau divonis, dia dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan dia tidak masuk dalam kategori hilang akal (gila)," katanya.
Kesaksian Istri Soal Pelaku Penembakan di MUI
Hengki menjelaskan, menurut kesaksian istri dan warga sekitar, pada tahun 1997 Mustofa mengumpulkan warga setempat, para ustaz, dan tokoh masyarakat untuk datang ke rumahnya.
Ketika itu, dia meminta adanya pengakuan bahwa dia sebagai wakil nabi. Namun dari 20 orang yang diundang, langsung tak percaya, dan bubar seketika meninggalkan rumahnya.
Dalam kegiatan sehari-hari, Mustofa terbilang sangat normal. Dia aktif bersosialisasi dengan masyarakat, hingga ke masjid. Jadi tak ada yang aneh dengan perilakunya.
Akan tetapi dari rekam jejaknya, yang bersangkutan ternyata juga kerap mendatangi MUI Lampung untuk pengakuan yang sama.
"Jadi sebenarnya Jakarta cuma ujungnya saja. Di Lampung sudah sering dia sampaikan aspirasinya agar mendapat pengakuan sebagai nabi," katanya.
Soal keterangan dia tak bisa menggunakan komputer namun menulis surat, ternyata dilakukan dengan menggunakan jasa rental di dekat rumah yang berjarak hanya 100 meter. Ada dua surat yang diketik, dan satu suratnya dia bayar Rp 5 ribu sebagai upah jasa.
Asal Usul Senjata Ternyata dari Oknum Polhut
Sementara terkait asal usul senjata yang digunakan pelaku penembakan di MUI, ternyata dibeli dari seorang pria berinisial H. Senjata yang digunakan ternyata cukup berbahaya, karena tidak beredar dan tak memiliki izin alias airgun serta tak ada payung hukumnya di Indonesia.
Senjata itu dilarang karena sifatnya yang berbahaya dan menggunakan peluru berbahan metal. Apalagi jika airgun itu dimodifikasi, maka akan jadi senjata sangat berbahaya.
Untuk kesehatan, Polisi menyebut bahwa Mustofa sudah diidentifikasi memiliki riwayat sakit. Ini sejalan dengan temuan di TKP di mana ditemukan beberapa jenis obat.
"Dan rekam medisnya kami sudah dapatkan dari wilayah tempat tinggalnya, ternyata koniseten dengan hasil autopsi Bidokkes dan Kedokteran Forensik," kata Hengki.
Dalam waktu dekat, Polisi menyatakan bakal menetapkan tiga orang tersangka, yang terdiri dari oknum Polisi Hutan, guru honorer, dan swasta berkaitan dengan asal usul senjata. Namun ketiganya tidak ada kaitannya dengan aksi teror penembakan di MUI.
