Janji vs konsistensi

Kamis 02 Feb 2023, 09:40 WIB

Padahal menepati janji tidak hanya akan meningkatkan kadar kepercayaan, tapi juga dapat melanggengkan kekuasaan atas kehendak rakyat. Politisi yang tidak menepati janji jangan harap dapat terpilih lagi pada periode mendatang.

Jangan menganggap dan menjadikan janji hanya menuntut tanggungjawab moral, tetapi memenuhi janji adalah sebuah kewajiban. Siapa pun hendaknya memiliki kesadaran diri bahwa tidak memenuhi janji adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri.

Janji menuntut konsistensi atas kesadaran diri sendiri untuk memenuhi, bisa disebut "politik janji". Tanpa konsistensi, janji tinggalah janji, tanpa kehendak untuk memenuhi. 

Mengapa? Jawabnya karena sesungguhnya yang tahu persis mengapa seseorang tidak bisa atau enggan menepati janji adalah diri sendiri. Bukan orang lain.

Padahal janji adalah utang yang harus dibayar. Karenanya disarankan agar “lebih baik berusaha untuk tidak berjanji daripada berusaha mencari-cari alasan agar janji bisa tidak dipenuhi.”

Pesan lain, “Jauh lebih baik tidak menjanjikan apapun, tapi mencoba sekuat daya untuk memberikan segalanya yang terbaik."

Patut diingat pula “janji” saja wajib dipenuhi, apalagi  “ikrar” dan “pejabat” yang sudah bersumpah dengan menyebut nama Allah. Bukankah, kewajiban untuk menepatinya lebih tinggi ketimbang mereka yang "sekadar" mengucapkan janji. 

Ada pesan moral yang ditulis pujangga besar Jawa dari Kasunanan Surakarta, yakni Raden Ngabehi Ronggo Warsito tentang konsep eling lan waspada lewat serat Kalatidha.  

"Sabegja - begjaning lali, luwih begja kang eling lan waspada - seberuntung - beruntungnya orang yang lupa (lalai), masih lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada. (Azisoko).
 


News Update