Disinilah perlunya membangun kemandirian bangsa, tak hanya soal pangan, sandang, dan papan. Tak cukup soal kemandirian ekonomi, juga politik dan budaya sebagaimana konsep TriSakti yang digagas Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan.
Dalam amanah Serat Sastra Gendhing juga disebutkan “smara bhumi adi manggala” – seorang pemimpin harus menjadi pelopor pemersatu dari berbagai kepentingan yang berbeda – beda dari waktu ke waktu. Suatu sikap yang saat ini sangat dibutuhkan membangun bangsa, yang sekarang ini kian terpolarisasi, terpecah belah akibat beda dukungan dan pilihan. Kedua amanah tadi selaras dengan yang diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, sebagai sumber dari sumber hukum, dalam upaya mewujudkan kemakmuran dan keadilan sosial.
Dengan meniru, memiliki watak dan kecakapan alam itu, pemimpin akan memiliki jiwa ksatria sebagai sarana mendarmabaktikan diri kepada negara dan rakyatnya seperti diurai Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Yang dibutuhkan kemudian adalah perubahan sikap para pemimpin melalui aksi nyata. Bukan sebatas slogan, tetapi jauh dari kenyataan. Bukan indah di atas kertas, tetapi minim realitas. Perlu kerja keras, kerja tangkas dan kerja cerdas mengatasi beragam tantangan yang semakin nyata. Cekatan mengambil tindakan, gesit merespons situasi tersulit. Mari lakukan aksi nyata, bukan tebar pesona. (Azisoko*)
