Menerima JIS di Selatan, Menolak JIS di Utara Karya Anies Baswedan

Kamis 05 Mei 2022, 06:30 WIB
Stadion JIS, Jakarta, siap untuk menyambut Salat Idul Fitri. (Foto: Aldi)

Stadion JIS, Jakarta, siap untuk menyambut Salat Idul Fitri. (Foto: Aldi)

Bangunan ini banyak mendapatkan pujian, bahkan dari dunia internasional. Bahkan, klub raksasa Barcelona dan Atletico Madrid dari tim juniornya sudah menjajal stadion ini. Mereka terkesan.

Terakhir, stadion ini disambut warga dalam perayaan Idul Fitri yang gegap gempita. Dihadiri Gubernur Anies, belasan ribu jamaah melakukan salat Idul Fitri di JIS itu. 

Peluncuran awal sudah dilakukan. Dan nantinya peluncuran yang sebenarnya akan digelar pada bulan Juni, beriringan dengan ulang tahun Kota Jakarta.

Stadion hebar nan megah ini diberi nama Jakarta International Stadium. Setidaknya nama itu sudah sering disebutkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, meski belum ada papan nama resmi untuk nama stadion itu.

Menolak Jakarta International Stadium

Lantas apa yang perlu ditolak dari Jakarta International Stadium itu? Ya memang ada alasan untuk menerima JIS di Selatan dan menolak JIS di Utara karya Gubernur Anies Baswedan.

Sebenarnya satu hal saja, yakni  nama Jakarta International Stadium adalah bahasa asing, yakni Bahasa Inggris. 

Ya memang rasanya tidak adil kalau begitu, karena sama-sama di Jakarta, Indonesia. Toh, JIS di Selatan juga menggunakan Bahasa Inggris, yakni Jakarta Intercultural School, dulu lebih akrab disebut Jakarta International School.

 Namun, alasannya, karena Gubernur Anies pernah menyatakan, nama-nama resmi di Jakarta menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sedangkan Jakarta International Stadium jelas-jelas Bahasa Inggris. Ini yang menjadi hal terasa mengganjal. Tetapi, ini hanya protes kecil, dan untuk menagih komitmen Gubernur Anies soal kecintaan dan penghormatanya terhadap Bahasa Indonesia.

Adapun Jakarta Intercultural School milik bangsa asing, untuk sekolah anak-anak ekspatriat (orang asing), bahasa pengantar mereka juga bahasa asing (Inggris). Dengan begitu keberadaanya berbeda sama sekali dengan  Jakarta International Stadium yang merupakan bangunan milik pemerintah.

Pemerintah di Indonesia, punya kewajiban untuk menjaga dan mengembangkan Bahasa Indonesia. Dari sisi inilah menolak JIS di Jakarta Utara itu menjadi relevan. (win) 


Berita Terkait


News Update