Dari informasi atau siaran tiga media ini mereka pahami dan mereka distribusikan ke masyarakat yang membutuhkan informasi sesuai dengan masyarakat desa setempat, apakah itu tentang Pertanian, Perikanan, Hidup Sehat/Keluarga Berencana, Lingkungan Hidup, Hukum dan lainnya, yang dikenal Paket Informasi Penerangan.
Kelompencapir ini juga membuat Pilot Project (Proyek Percontohan) misalnya, Perkebunan Jagung, Peternakan Air Tawar, Perpustakaan Desa dan lainnya.
Dari percontohan ini bisa menggerakkan masyarakat agar dapat melakukan hal ini untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Terkenal dengan istilah Komunikasi Getok Tular.
Untuk meningkatkan motivasi para pegiat Kelompencapir ini diadakan perlombaan setiap tahun sampai ke Tingkat Nasional pada waktu Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei.
Ajang kompetisi ini cukup memacu kemajuan pengelola Kelompencapir, sehingga ini menjadi barometer atau alat ukur suatu daerah (provinsi) masuk dalam Kategori Daerah Maju atau tidak.
Karena mereka ini sudah mewakili dari provinsi masing-masing.
Kelompencapir ini menjadi Role Model bagi instansi lain.
Tentu lantaran success story, misalnya Departemen Kehakiman ketika itu mengadopsi dengan nama Kadarkum, Keluarga Sadar Hukum. Dan ada lagi beberapa instansi lain yang membuat hal serupa.
Selain Kelompencapir, terobosan agar penerangan/informasi cepat diterima masyarakat.
Departemen Penerangan di era Harmoko mengadakan atau membuat, Pusat Informasi Pesantren (PIP) di pondok pesantren.
Pergelaran kesenian tradisional, penilaian Juru Penerangan (Jupen) berprestasi tinggi, pameran pembangunan, pemutaran film pembangunan ke pedesaan, mobil panggung hiburan, dan lainnya.
Catatan sedikit, kalau dulu komunikasi publik/sosial diarahkan karena masyarakatnya masih terbatas informasi, hanya orang-orang tertentu yang memiliki informasi, elit desa misalnya.
Maka harus setiap hari Jupen Kecamatan terjun ke masyarakat memberikan informasi.
