Oleh : Drs. H. Azkar Badri, M.Si
The Rawas (Riset Apresiasi Warga Dan Sosial) Institute
SENIN (05/07/2021), Bapak H Harmoko pergi menghadap Sang Khaliq.
Sejak era Reformasi sampai meninggal dunia, almarhum absen dalam dunia politik.
Muncul di Rubrik Kopi Pagi di Harian Pos Kota setiap Senin dan Kamis, semacam Selamat Pagi Indonesia, menuangkan pikirannya.
Mungkin dia paham betul bukan eranya lagi, era para generasi berikutnya, generasi lebih muda darinya dengan kosepsi reformasi.
Padahal tidak juga, dan beberapa tahun belakangan malah stigma Orde Baru (Orba) tidak berkonotasi buruk lagi, bahkan ada kecenderungan dirindukan oleh banyak masyarakat.
Indikatornya, banyak stiker Soeharto, dengan pesan sejenis : "Enak Zamanku Loh."
Harmoko bagian dari Orba, terbersit ingin melihat dari jauh, bagaimana maju negara sekarang ini dalam konsep Reformasi. Begitu penafsiran kita.
Harmoko satu-satunya Menteri Penerangan yang paling lama, 15 tahun (tiga periode).
Di era Harmoko terbangun dengan baik komunikasi sosial (Komunikasi Publik) sampai ke tingkat yang paling bawah, yakni Desa.
Jumlah Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pemirsa) melebihi jumlah desa di Indonesia saat itu.
Kelompencapir ini sebuah kelompok masyarakat desa dari berbagai tokoh yang mempunyai kegiatan menyimak atau membaca isi koran masuk desa/koran untuk desa, siaran pedesaan radio dan siaran pedesaan televisi.
