JAKARTA – Di saat warga Jakarta mulai beraktivitas menyambut kenormalan baru (new normal), sekitar 3.000 warga pesisir utara Ibukota harus hidup prihatin. Penderitaan mereka akibat ekonomi anjlok sebagai dampak pandemi covid-19, kini bertambah lantaran rumah mereka diterjang rob.
Banjir rob membuat aktivitas ekonomi warga yang sebagaian besar nelayan dan pedagang, terpaksa terhenti. Nelayan tidak melaut, sementara pedagang tidak membuka kiosnya.
Banjir rob akibat air laut pasang menerjang pemukiman warga di wilayah Kelurahan Ancol, Pademangan dan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara, serta sejumlah pulau di Kepulauan Seribu, sejak Kamis (4/6/2020) dinihari.
Ratusan rumah warga terendam dengan ketinggian air antara 50 Cm hingga 60 Cm. Ribuan warga terdampak banjir rob tersebut. Rob yang menerjang wilayah Ancol menyebabkan sekitar 1.000 Kepala Keluarga (KK) dengan jiwa sekitar 3000 orang, tempat tinggalnya terendam. Namun, tidak ada warga yang mengungsi.
Menurut prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), rob masih akan berlangsung hingga Jumat (5/6) malam yang merupakan bulan purnama. Diperkirakan air masih tinggi hingga beberapa hari ke depan.
Perabotan Rusak
Faisal (50), warga Lodan, Ancol mengatakan, banjir rob yang masuk rumahnya mengakibatkan sejumlah perabotan.
“Waktu air masuk ke rumah kayak ditumpahin dari laut, jadi banyak perabotan yang terendam. Kalau barang elektronik sudah pasti rusak nggak bisa dipakai lagi,” ungkapnya.
Menurut dia, banjir rob yang menerjang permukiman terjadi sejak Rabu (3/6/2020) malam. Namun, ketinggian air cukup parah mulai Kamis malam, hingga air pun masuk ke rumah-rumah warga.
“Di dalam rumah air cukup tinggi , 40 sampai 50 centimeter. Kalau yang di jalan paling cuma sekitar 20 centimeter,” ungkap Faisal.
Rob juga menerjang pemukiman warga di Muara Angke, Kelurahan Pluit. Mualim (51), warga Kampung Nelayan di kawasan Muara Angke mengatakan, ketinggian air mencapai 50 - 60 centimeter. Akibatnya, banyak warga yang mengungsi ke rumah kerabat mereka.
