Jangan Cepat Berpuas Diri

Kamis 16 Jan 2020, 07:35 WIB

Oleh: Harmoko 

ADA kalanya kita merasakan apa yang dimiliki orang lain terlihat lebih indah, ketimbang milik kita. Padahal sesuatu yang dimiliki itu sama dengan milik kita. Sama jenisnya, rupanya, dan wujudnya.

Diibaratkan mobil, tahun produksi sama, bulannya sama, merek sama, bahkan warna pun sama, tapi kenapa milik tetangga terlihat lebih indah.

Persepsi diri ini wajar saja dan akan menjadi positif jika digunakan sebagai alat kontrol diri terhadap kekurangan diri.

Sebut saja mobil tadi, jika milik orang lain lebih bagus, kinclong, tak pernah mogok, sementara milik kita tampak kusam dan sering bermasalah, berarti ada yang keliru dalam pemakaian atau kurangnya perawatan. Ini bentuk kesadaran atas kekurangan yang telah dilakukan.

Tetapi menjadi penghambat, jika cermin adanya ketidakpuasan diri atas apa yang telah dimiliki. 

Jika demikian berlakulah pepatah " Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau".

Sebuah sikap yang mencerminkan ketidakpuasan yang bisa melahirkan embrio iri dan dengki. Dan, pada akhirnya memudarkan sifat toleransi, saling menghargai. Sementara toleransi, tenggang rasa, saling menghargai, menghormati adalah tatanan nilai yang mestinya melekat dalam jati diri sebagaimana ajaran leluhur yang sudah dilegalkan sebagai falsafah negeri.

Tidak berpuas diri dalam konteks mengembangkan kreasi dan inovasi  adalah sikap yang hendaknya dikedepankan oleh seluruh anak negeri. Tetapi tidak berpuas diri atas apa yang telah dimiliki, atas hasil usaha yang telah dilakukan, selalu merasa kurang, itu pertanda kurang merasa bersyukur.

Akan beda, jika kekurangan yang didapat menimbulkan kesadaran diri, dijadikan pemacu untuk berkarya lebih baik lagi, bekerja lebih baik lagi agar mendapatkan hasil yang maksimal. Itu bentuk kesadaran untuk memperbaiki diri.

Lebih luas lagi, kesadaran diri ini diterapkan dalam lingkungan masyarakat dengan mengapresiasi dan menghargai hasil karya orang lain. Meski hasil karya, sebut saja buruk, belum maksimal, tidak sesuai standar kualifikasi, bukan lantas dibenci.Begitu pun ketika hasilnya berkualitas, sangat memenuhi standar kualifikasi, tidak lantas membuat iri, apalagi dengki, kemudian mencari - cari alibi untuk tidak menghargai. Lebih - lebih sampai menggerakkan orang lain agar ikut- ikutan tidak menghargai.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sejak dulu, kita diajarkan untuk menjaga etika dan tata krama. 

Salah satu pitutur luhur yang sudah cukup dikenal adalah budaya tepo seliro atau tenggang rasa.

Petuah ini mengajak kita, manusia, untuk selalu menenggang, menghargai, dan menghormati perasaan orang lain dalam berkehidupan dan bersosialisasi.

Tenggang rasa memang mudah diucapkan, tetapi sulit diterapkan. Terlihat sepele, tapi kadang menjadi persoalan dalam bermasyarakat. Dari hal yang kecil seperti membuang sampah, parkir kendaraan hingga saling tegur sapa dengan tetangga, termasuk bagaimana menghargai privacy masing- masing pribadi.

Bisa jadi kita merasa puas atas sikap orang lain karena begitu toleran, sangat menghargai privacy. Sebaliknya bisa juga orang lain yang tidak merasa puas atas sikap dan perilalu kita dalam bertetangga, bersosialisasi.

Itulah sebabnya kepuasan itu relatif, tergantung dari sudut mana melihatnya.

Yang pasti, jika kita ingin merasa puas, lebih dulu berilah kepuasan kepada orang lain dengan sedapat mungkin menata diri sebaik mungkin. Tidak mengecewakan orang lain, tidak membuat sakit hati orang lain. Tidak pula mengganggu ketenangan orang lain.

Satu hal yang menjadi panduan adalah jangan cepat berpuas diri, menganggap apa yang telah kita kerjakan telah membuat orang senang dan bahagia. Padahal belum tentu.

Sekalipun apa yang telah kita kerjakan mendapat pujian dan pengakuan, tidak lantas berhenti meningkatkan kualitas diri.

Berhenti meningkatkan kualitas diri tidak ubahnya dengan berhenti di tengah jalan yang masih panjang. 

Berpuas diri atas hasil yang telah dicapai, akan menjadi penghalang. Karena langkah ke depan masih penuh dengan tantangan.

Terhenti di tengah jalan karena telah berpuas diri sejatinya sebuah kemunduran. Sebab, selama kita terhenti, orang lain terus berkarya, berkreasi dan berinovasi.

Dengan berhenti melangkah, berarti kita menjauh dari kesuksesan yang sesungguhnya yang belum diraih. Kalau ingin berhenti sampai di situ, silakan! Tapi sukses yang lebih besar, yang tinggal selangkah lagi sirna karena diambil orang lain.

Dengan cepat berpuas diri, sama artinya menghilangkan sisa potensi yang dimiliki. Dengan cepat berpuas diri membuat kita malas untuk berbuat lebih baik lagi, sementara kemampuan untuk merengkuh peluang dimiliki.

Sifat cepat puas diri menjadikan kita terlena, padahal keberhasilan yang sesungguhnya ada di ujung perjalanan panjang. Bukan sekarang. Tapi nanti. Mari kita lewati dengan penuh kesadaran diri.

"Kita tidak akan punya kondisi yang lebih baik di masa depan jika kita puas dengan apa yang kita dapat sekarang," kata Thomas Alva Edison. (*)

 
 
 
 
ReplyReply allForward

News Update