Jangan Cepat Berpuas Diri

Kamis 16 Jan 2020, 07:35 WIB

Dalam kehidupan bermasyarakat, sejak dulu, kita diajarkan untuk menjaga etika dan tata krama. 

Salah satu pitutur luhur yang sudah cukup dikenal adalah budaya tepo seliro atau tenggang rasa.

Petuah ini mengajak kita, manusia, untuk selalu menenggang, menghargai, dan menghormati perasaan orang lain dalam berkehidupan dan bersosialisasi.

Tenggang rasa memang mudah diucapkan, tetapi sulit diterapkan. Terlihat sepele, tapi kadang menjadi persoalan dalam bermasyarakat. Dari hal yang kecil seperti membuang sampah, parkir kendaraan hingga saling tegur sapa dengan tetangga, termasuk bagaimana menghargai privacy masing- masing pribadi.

Bisa jadi kita merasa puas atas sikap orang lain karena begitu toleran, sangat menghargai privacy. Sebaliknya bisa juga orang lain yang tidak merasa puas atas sikap dan perilalu kita dalam bertetangga, bersosialisasi.

Itulah sebabnya kepuasan itu relatif, tergantung dari sudut mana melihatnya.

Yang pasti, jika kita ingin merasa puas, lebih dulu berilah kepuasan kepada orang lain dengan sedapat mungkin menata diri sebaik mungkin. Tidak mengecewakan orang lain, tidak membuat sakit hati orang lain. Tidak pula mengganggu ketenangan orang lain.

Satu hal yang menjadi panduan adalah jangan cepat berpuas diri, menganggap apa yang telah kita kerjakan telah membuat orang senang dan bahagia. Padahal belum tentu.

Sekalipun apa yang telah kita kerjakan mendapat pujian dan pengakuan, tidak lantas berhenti meningkatkan kualitas diri.

Berhenti meningkatkan kualitas diri tidak ubahnya dengan berhenti di tengah jalan yang masih panjang. 

Berpuas diri atas hasil yang telah dicapai, akan menjadi penghalang. Karena langkah ke depan masih penuh dengan tantangan.

Terhenti di tengah jalan karena telah berpuas diri sejatinya sebuah kemunduran. Sebab, selama kita terhenti, orang lain terus berkarya, berkreasi dan berinovasi.


News Update