MALAM itu, pertengahan Februari 2019, sejumlah warga di kawasan Mangga Dua, Sawah Besar, Jakarta Besar, baru saja menjalankan salat Isya di sebuah mesjid. Mereka dikejutkan teriakan belasan warga sambil berlari ke sebuah mobil minibus yang terpakir di sebuah mulut gang di kawasan itu. "Maling, maling!" teriak massa bersahutan. Suaranya semakin kencang mendekat. Beberapa jemaah menghadang sejumlah warga sambil bertanya, “Mana malingnya, mana?’ Jangan main hakim sendiri!’ Belum sempat pertanyaan itu dijawab, terdengar letusan senjata api. Dor, Dor! Dor! Berondong tembakan ke udara dari seorang pria yang keluar dari mobil itu. Disusul kemudian satu pria lainnya. Rentetan tembakan itu memaksa gaduh massa seketika membisu. “Kami bukan maling! Kami polisi! Ini KTA (Kartu Anggota) kami,” ucap pria itu sambil tangan kirinya menunjukkan KTA, tangan kanan menggenggam sepucuk pistol. Massa terdiam di tempat. Beberapa jemaah mesjid datang menghampiri pria yang memberondong tembakan ke udara. KTA-nya diperiksa dan menanyakan tudingan massa itu. Sesaat kemudian mereka meminta massa bubar. “Dia memang polisi. Mereka sedang menyamar dan menangkap pengendar narkoba,” ucap satu tokoh ulama. Massa akhirnya bubar, sedangkan satu pengedar narkoba berikut belasan paket shabu diamankan ke Mapolsek Tebet. “Itu secuil pengalaman saya bersama tiga anggota meringkus pengedar narkoba diteriaki maling dan nyaris digebuki,” kenang Iptu Iwan Ridwanullah. PENUH RISIKO Kanit Reksrim Polsek Tebet ini mengatakan, menjadi anggota Korps Bhyangkara penuh risiko apalagi ditugaskan di satuan reserse. “Namun bila dijalankan penuh ikhlas, bertanggungjawab, sesuai prosedur dan selalu berdoa kepada Tuhan, risiko itu akan hilang,” ucapnya. Lulusan Bintara SPN Lido, Bogor tahun 2000 ini tak pernah mengeluh meski harus bergadang berhar-hari atau menyamar sebagai pemulung, demi mengungkap suatu kasus. “Saya punya tanggung jawab mengungkap kasus kejahatan, salah satunya narkoba. Harus saya jalani dengan senang,” katanya. Dengan menangkap pengedar dan mengungkap kasus narkoba, dia berharap pendistribusian narkoba ke masyarakat semakin berkurang. “Saya kerap membayangkan, bila narkoba menjerumuskan keluarga atau teman. Sumpah, saya tak sanggup melihatnya. Sebab itu saya bertekad, akan terus kejar dan tangkap pengedar dan bandar itu,” tukas lulusan Sekolah Inspektur Reserse, Megamendung, Bogor ini. (adji/iw)
Iptu Iwan, Pernah Nyamar Beli Narkoba Lalu Dikepung Massa
Jumat 08 Nov 2019, 08:08 WIB

Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
Nasional
Setujui Tenor KPR FLPP hingga 40 Tahun, Pemerintah Pertahankan Suku Bunga Rumah Subsidi 5 Persen dan Rusun Subsidi 6 Persen
Nasional
Presiden Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah di 37 Provinsi, Menko AHY: Perkuat Konektivitas dan Ketahanan Nasional
Nasional
Ginka Febriyanti Ginting Anak Siapa dan Lulusan Mana? Cek Profil Komisaris Pertamina Retail yang Viral