Lupakan Masa Lalu

Sabtu 19 Okt 2019, 09:03 WIB

IBARAT kita sedang berkendara jangan terlalu lama  melihat kaca spion, tetapi fokus melihat ke depan agar selamat sampai tujuan. Ungkapan ini mengingatkan kepada kita untuk tidak terus menerus melihat masa lalu, sementara masa depan terabaikan. Orang bijak bilang : masa lalu sebagai pengalaman, masa depan adalah memperbaiki keadaan agar tidak mengulangi kesalahan. Dalam hubungan antar- manusia, boleh jadi, masa yang lalu kita bersiteru akibat beda pilihan, beda aspirasi politik, bahkan menjadi lawan politik. Tak jarang saling debat dengan sesama teman, dengan tetangga tidak saling sapa akibat beda dukungan dan coblosan.Tapi itu dulu! di saat pilkada dan pilpres. Sekarang tak ada lagi kelompok ini, kelompok itu. Tak ada lagi istilah 01 dan 02. Yang ada adalah kita, masyarakat Indonesia yang telah menyaksikan pelantikan anggota dewan periode 2019 -2004, baik di daerah maupun pusat. Esok,  Minggu, 20 Oktober 2019, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, dilantik sebagai presiden dan wakil presiden. Dengan pelantikan ini, dan diharapkan pekan depan sudah terbentuk kabinet baru, maka telah lahirlah pemerintahan baru. Sebuah pemerintahan yang tentunya memiliki tanggung jawab membawa bangsa dan negara kita makin maju dan sejahtera sebagaimana tujuan negeri ini didirikan. Untuk mencapai tujuan harus fokus ke depan, bukan ke belakang. Masa lalu biarlah berlalu. Yang manis biar dikenang, yang pahit jadi pelajaran, yang getir jadi acuan. Masa lalu kamu milik kamu, masa lalu aku milik aku, masa depan milik kita bersama. Mari bersatu padu membangun masa depan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera untuk semua. Bukan sejahtera bagi sekelompok orang, tapi semua orang. Ibarat negeri kita sebuah kapal besar sedang berlayar menuju pulau impian, nakhoda, bertanggung jawab atas keselamatan para awak kapal dan seluruh penumpangnya yang berasal dari beragam latar belakang daerah, suku, agama, ras, antargolongan. Berbeda status sosial ekonomi, budayanya. Nakhoda sebagai komandan kapal bertugas memenuhi rasa keadilan bagi setiap penumpang, memenuhi kebutuhan setiap penumpang tanpa perbedaan dan pembedaan. Sedikit terdapat perbedaan, apalagi dengan kesengajaan, penumpang bisa protes. Sedikit saja haknya terabaikan. Secuil jatah penumpang diselewengkan, kapal bisa oleng. Jika penumpang gaduh, tidak tertib, lebih - lebih sampai terjadi kekacauan, kapal sulit dikendalikan. Mari kita jaga, rawat dan kayuh kapal impian kita agar mampu menerjang ombak dan badai hingga ke pulau impian. Perjalanan masih sangat panjang, 5 tahun mendatang. Di sinilah perlunya kebersamaan mulai dari nakhoda, para awak kapal dan seluruh penumpang. Satu kata dalam perbuatan, satu hati, satu cita - cita dan tujuan, Indonesia sejahtera. Bung Karno telah berpesan, "Negara ini, Republik Indonesia, bukan milik kelompok manapun, juga agama, atau kelompok etnis manapun, atau kelompok dengan adat dan tradisi apa pun, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” (*).


News Update