JIKA kita bertanya mengapa aksi penyelundupan masih terjadi? Jawabnya akan muncul beragam argumentasi. Yang jelas karena ada yang ingin meraih keuntungan dengan jalan pintas. Di sisi lain, barang yang diselundupkan merupakan produk yang banyak diminati konsumen – laku di pasaran.Ditambah lagi, barang impor selundupan, lazimnya dijual dengan harga miring, lebih murah. Itulah sebabnya berungkali kasus penyelundupan terungkap, para pelakunya masuk penjara, tetapi aksi serupa belum juga mereda. Pekan ini misalnya, kasus penyelundupan dibongkar Direskrimus Polda Metro Jaya. Hasil pemeriksaan sementara terungkap penyelundupan tekstil, pakaian baru dan bekas, tas baru dan bekas, beragam merek sepatu, dilakukan oleh sebuah sindikat. Mereka telah melakukan aksinya sudah 2 tahun sampai 10 tahun belakangan ini seperti dikatakan Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Eddy Pramono kepada pers, Kamis (12/9/2019). Barang diselundupkan dari China ke Malaysia melalui pelabuhan Pasir Gudang Johor. Kemudian barang dikirim ke pelabuhan Kuching Serawak. Menggunakan truk diangkut ke perbatasan wilayah Indonesia untuk diselundupkan melalui jalan tikus ke wilayah Kalimantan Barat – lanjut dengan truk menuju Pelabuhan Dwikora diangkut dengan kapal laut hingga masuk Pelabuhan Tegar Marunda Center Kab. Bekasi. Itulah alur penyelundupan dari pelabuhan ke pelabuhan. Modus penyelundupan dengan modus semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru sama sekali. Hanya saja, polanya yang selalu berubah – ubah untuk selalu mencari celah. Pemerintah pun tidak tinggal diam.Kita patut mengepresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan guna mencegah penyelundupan melaui pelabuhan ( laut). Di antaranya, 7 lembaga negara membentuk Tim Penertiban Pesisir Timur Sumatera, Selat Malaka dan Batam. Daerah ini memang harus mendapat prioritas pengamanan karena terdeteksi rawan penyelundupan. Tak kalah pentingnya memotong mata rantai penyelundupan mulai dari hulu hingga hilir. Dampak penyelundupan bukan saja kerugian negara yang mencapai trilunan rupiah setiap tahunnya, juga dapat mematikan industri dalam negeri. Sebab, beberapa barang impor selundupan, merupakan barang sejenis yang sudah banyak diproduksi di dalam negeri.Sebut saja tekstil dan produk tekstil, sembako, makanan dan minuman, kosmetik, obat dan bahan kimia serta elektronik. Bagi masyarakat perlu diedukasi agar tidak tergiur membeli barang impor ilegal karen harga murah. Sebab, selama masih ada yang beli, penyelundupan masih akan terjadi. (*).
Penyelundupan Tiada Henti
Jumat 13 Sep 2019, 08:52 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
HIBURAN
Profil dan Pendidikan Amanda Rigby, Aktris yang Dikabarkan Akan Menikah dengan Andre Taulany
JAKARTA RAYA
Video Rekaman CCTV Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City Viral, Tampang Pelaku Terungkap
OLAHRAGA
KLIK Link Live Streaming Voli Putri Indonesia vs Nepal di Asian Games 2026 Sore Ini, Mulai Jam 17.20 WIB