TAWURAN antar-remaja saat bulan Ramadan, terutama menjelang dan pasca-sahur di Jakarta semakin marak. Di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan, contohnya. Baru seminggu bulan puasa setidaknya sudah beberapa kali terjadi tawuran dan mengakibatkan nyawa melayang. Di Jakarta Selatan, Selasa (7/5) dini hari, tawuran terjadi di Jalan Amsar, Jagakarsa. Akibatnya seorang pelajar meninggal dunia, karena dibacok. Kemudian, pada Rabu (8/5) dini hari, tawuran terjadi di Jalan Raya Lenteng Agung Timur, Jagakarsa. Lagi-lagi mengakibatkan nyawa seorang pelajar juga melayang. Sementara di Jakarta Utara, tepatnya Clincing, Minggu (12/5) dini hari, terjadi ‘perang sarung’ dan satu orang meninggal dunia. Tawuran antar-remaja di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya sepertinya bagai karat yang susah dibersihkan. Tawuran bagi mereka bagai penunjukkan identitas akan kemampuan dan kebanggaan diri maupun kelompoknya. Ada banyak faktor yang menyebabkan remaja itu terlibat tawuran. Bisa saja mereka terlibat tawuran karena kurang perhatian orangtua, tuntutan solidaritas dengan teman, krisis identitas maupun faktor lainnya. Mencegah maraknya tawuran, Polres Jakarta Selatan meningkatkan patroli hingga menjelang subuh. Polri bersama TNI keliling wilayah terutama di titik-titik rawan bentrok antara remaja. Bukan itu saja, petugas juga merazia peserta Sahur On The Road (SOTR) karena dinilai berpotensi konflik. Kegiatan preventif seperti meningkatkan patroli atau mensweeping untuk mencegah pecahnya tawuran memang perlu dilakukan. Namun, untuk mengatasi tawuran antara remaja seharusnya tidak sepenuhnya dibebankan ke pundak aparat keamanan saja. Orangtua dan keluarga memiliki peran besar dalam mencegah tawuran antar remaja. Caranya Orangtua harus meningkatkan pengawasan terhadap anak saat menjelang dan pasca sahur, sehingga tidak keluyuran di jalanan. Meminjam imbauan Gubernur Anies Baswedan, “Mengatasi tawuran antara remaja sebaiknya orangtua bisa memastikan anaknya sahur di rumah. Bila anak sahur di rumah maka tidak ada remaja yang berkonvoi membawa senjata tajam dan bergerombol di pinggir jalan.” Selain itu, untuk mencegah tawuran, tidak ada salahnya pengurus RT, RW, dan tokoh masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan warganya. Karena pencegahan tawuran antar remaja bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Pendek kata tawuran antar remaja adalah pekerjaan rumah (PR) bersama. Cara mengatasinya, tentu harus dilakukan bersama-sama. @*
Mengatasi Tawuran Remaja
Senin 13 Mei 2019, 07:13 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
Berita Terkait
News Update
JAKARTA RAYA
Respons Senayan City Soal Viral Pria Tendang Wanita di Food Court, Ini Pernyataan Manajemen
HIBURAN
Profil dan Pendidikan Amanda Rigby, Aktris yang Dikabarkan Akan Menikah dengan Andre Taulany
JAKARTA RAYA
Video Rekaman CCTV Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City Viral, Tampang Pelaku Terungkap