HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei setiap tahun diperingati kalangan terbatas, karena tidak semua warga mengingatnya sebagai hari penting. Padahal Hardiknas lahir dari cita-cita luhur tokoh pendidikan di negeri ini, Ki Hajar Dewantoro yang mengingikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas dan bermartabat. Hardiknas harus menjadi tonggak evaluasi dan refleksi tentang wajah dunia pendidikan di Indonesia. Di era globalisasi saat ini, tantangan pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Era globalisasi yang melahirkan generasi milenial yang harus siap bersaing di dunia internasional, sekaligus memiliki karakter kuat serta bermoral. Globalisasi adalah sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan, serta menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi sebuah persaingan untuk merebut sukses di antara bangsa-bangsa di dunia, tanpa meninggalkan jati diri bangsa Indonesia. Setidaknya ada beberapa poin penting yang perlu dicermati dalam dunia pendidikan kita di era milenial, soal bagaimana menyiapkan generasi berlualitas. Poin pertama, pendidikan karakter menyangkut moral, budi pekerti, nasionalisme, patriotisme dan wawasan kebangsaan. Di era serba digital saat ini, pendidikan karakter penting ditanamkan sejak dini sebagai sebagai benteng menghindari hal-hal negatif, serta membentuk jati diri bangsa. Poin lainnya, mutu pendidikan, sistem, kurikulum, serta mutu pengajar atau guru. Mutu pendidikan tak bisa lepas dari kualitas tenaga pendidik. Kualifikasi dan kompetensi guru maupun dosen, menjadi elemen sangat penting. Pendidik adalah agen pembelajaran yang dituntut mampu menjadi fasilitator, motivator, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi bagi peserta didik. Perlu digaris bawahi, pada 2016 data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 mencatat, pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang, dan tenaga pendidik atau guru menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang. Ini PR besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Faktor penting lainnya, menekan anak putus sekolah. Jumlah anak putus sekolah tergolong masioh tinggi. Data Tahun 2016 tercatat 4,6 juta anak usia 7-18 tahun putus sekolah dengan berbagai faktor. Tahun 2017/2018 data tersebut tak banyak berubah. Penyebabnya beragam, mulai dari faktor ekonomi yang menuntut anak harus mencari uang dan terpaksa putrus sekolah, serta biaya pendidikan yang sulit dijangkau. Biaya menempuh pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, tidak murah. Subsidi pendidikan masih diutamakan pada tenaga pendidik, sehingga subsidi bagi peserta didik terabaikan. Masalah-masalah tersebut harus dipecahkan, diambil langkah komprehensif. Karena pendidikan menjadi landasan yang sangat mendasar bagi kewibaan serta kemajuan suatu bangsa.
Tantangan Pendidikan di Era Milenial
Jumat 03 Mei 2019, 04:38 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.
News Update
JAKARTA RAYA
Respons Senayan City Soal Viral Pria Tendang Wanita di Food Court, Ini Pernyataan Manajemen
HIBURAN
Profil dan Pendidikan Amanda Rigby, Aktris yang Dikabarkan Akan Menikah dengan Andre Taulany
JAKARTA RAYA
Video Rekaman CCTV Pria Tendang Wanita di Mal Senayan City Viral, Tampang Pelaku Terungkap