Siap Untuk Terpilih Siap Pula Tidak Terpilih

Rabu 17 Apr 2019, 06:10 WIB

HARI ini, Rabu, 17 April 2019, puncak pesta demokrasi terbesar sepanjang sejarah Republik ini, digelar. Rakyart berharap pemilihan presiden/ wapres yang dilakukan serentak dengan pemilu legislatif, dapat berjalan dengan aman, lancar, dan berkualitas. Pemilu dapat dikataklan sukses tidak sekadar aman, lancar dan tepat waktu, tetapi yang utama adalah hasil yang berkualitas sehingga lebih berkepastian hukum karena mendapat legitimasi sepenuhnya dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Satu ciri pemilu berkualitas yang lazim terjadi, tak adanya satu pun gugatan yang siginifikan atas hasil pemilu. Artinya rakyat menerima sepenuhnya hasil pemilu, meski dengan catatan, terutama dari kontestan pemilu itu sendiri. Kita meyakini, gugatan tak akan muncul, jika pemilu dilakukan secara bersih, tanpa kecurangan sebagaimana asas yang sudah ditetapkan yakni, Luber dan Jurdil. Juga prinsip – prinsip pemilu yang lain seperti terbuka, proporsional, profesional, akuntabel yang harus dipenuhi. Tidak kalah pentingnya kepatuhan asas dan prinsip pemilu datang dari para kontestan pemilu itu sendiri mulai dari para caleg DPR RI, DPRD, DPD dan pasangan Capres/Cawapres. Kita meyakini, siapa pun yang maju sebagai peserta pemilu,  sudah siap mental atau sudah membentengi dirinya dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi, termasuk jika tidak terpilih. Maknanya “ siap untuk menang, siap juga untuk kalah”. Satu pesan yang hendak kita sampaikan adalah siapa pun yang menang, harus mengakui bahwa kemenangan yang diperolehnya bukan semata kemenangan dirinya, kehebatan dirinya, tetapi harus disadari sepenuhnya sebagai kemenangan bersama, kemenangan rakyat, kemenangan bangsa Indonesia. Memperoleh predikat “menang” karena ada yang ” kalah”. Tanpa ada yang kalah, tak mungkin ada kemenangan. Karenanya yang menang tidak perlu sombong, arogan, apalagi mencemooh yang kalah. Sikap sombong,arogan dan merendahkan sangat tidak sesuai dengan budaya kita. Selain akan mengikis kebersamaan, boleh jadi akan menambah musuh baru. Yang menang hendaknya menyingkirkan sifat “adigang adigung adiguno”. Hendaknya yang menang makin mengedapankan sikap lemah lembut, ramah, merendah kepada sesama kontestan , bahkan mengucapkan terima kasih atas partipasinya sebagai kontestan yang terbaik. Jika sudah demikian, kita meyakni, yang kalah akan merasa legowo. Menerima kekalahan dengan iklhas karena diperlukan sebagai kawan, bukan lawan. Kita perlu membiasakan diri dalam pesta demokrasi tidak ada istilah kalah dan menang. Yang ada adalah sudah terpilih dan belum terpilih sesuai standar demokrasi yang berlaku. (*).


News Update