Stop Saling Pamer Berjasa Bangun MRT

Jumat 29 Mar 2019, 05:45 WIB

GEGAP gempita peluncuran Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) masih membekas. Euforia masyarakat ingin menjajal angkutan massal berbasis rel tersebut juga masih terasa. Si ular besi kini bagai magnet. Banyak warga dari pelosok Jabotabek meluangkan waktu secara khusus demi merasakan angkutan nyaman tersebut. Seperti plesiran. Namun ada torehan catatan dari suksesnya pembangunan MRT yang cukup mengusik publik. Mengapa? Karena setelah ular besi ini secara resmi meluncur membelah Ibukota, suara-suara sumbang terdengar lantaran saling klaim MRT bisa terwujud atas peran dan jasa mereka. Polemik muncul ketika muncul pernyataan pembangunan MRT adalah keputusan politik Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, saat menjabat Gubernur/Wagub DKI. Pernyataan ini spontan menuai kontroversi, karena dinilai menafikkan peran pejabat-pejabat sebelumnya serta gubernur saat ini, Anies Baswedan. Terlebih di tahun politik ini, apa pun bisa dipolitisir. Sejarah mencatat, proyek MRT digagas BJ Habibie (saat itu Kepala BPPT) pada 1985 di era Presiden Soeharto. Pada Mei 1995 mulai dibentuk konsorsium Indonesia-Japan-Europe Group (IJEG) guna merancang desain dasar. Mewujudkan megaproyek ini, bukan semudah membalik telapak tangan. Butuh perjalanan panjang melalui berbagai kajian. Presiden dan Gubernur DKI boleh berganti, namun di setiap era MRT terus diperjuangkan. Hingga akhirnya ground breaking dilakukan Gubernur Fauzi Bowo, dilanjutkan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jokowi. Proses pembangunan dilanjutkan Gubernur Ahok. Sayangnya terkendala pembebasan lahan, antara lain di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Baru ketika era Gubernur Anies Baswedan, hambatan bisa diselesaikan. Pemilik lahan rela melepaskan tanahnya setelah Anies silaturahmi menemui mereka secara langsung. Kini MRT sudah bisa dinikmati publik. Elit pemerintahan, elit politik harus besikap bijak. Tidak perlu membuat narasi kontroversi, mengklaim siapa yang paling berjasa mewujudkan proyek ini. Surat terbuka Anies yang menjadi viral, yang menyebutkan pekerja-pekerja proyek yang menguras keringat siang malam, adalah yang paling berjasa mewujudkan mimpi anak bangsa, patut diapresiasi. Bahwa setetes keringat pun harus dihargai. Sejarah mencatat, Indonesia kini telah memiliki angkutan massal yang pantas dibanggakan dan kita boleh pamer ke bangsa lain. Tetapi tak perlu pamer jasa, pamer prestasi. Karena sekecil apa pun sumbangsih untuk bangsa dan negara, jejaknya akan tak terlewat dalam catatan sejarah. **


News Update