“Perang” Lembaga Survei Mana yang Bisa Dipercaya?

Rabu 27 Mar 2019, 07:10 WIB

PILPRES-Pileg 2019 tinggal tiga minggu lagi, yang nervous bukan saja caleg, tapi juga rakyat pro Capres No. 01 dan pro No. 02. Angka elektabilitas kedua Capres itu jadi medan “perang” para lembaga survei (LS). Lalu publik pun mencurigai bahwa di antara mereka ada yang bayaran. Lalu mana lembaga survei yang bisa dipercaya? Seperti pernah dikatakan Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Pilpres-Pileg yang serentak menjadikan partai bak melalui rel doble track. Yang satu jurusan Senayan (DPR), yang satu lagi jurusan Istana (presiden). Maunya sih, semuanya dapat dua-duanya. Capres jagoannya menang, dan seluruh kadernya jadi anggota DPR. Rasa optimisme Caleg dan Capres itu rujukannya data sajian para LS. Mereka akan kebat-kebit jika angka prosentase itu negatif. Jangankan Caleg dan Capres, kalangan Cebong dan Kampret pun ikut nervous bila jagoannya jeblok prosentasenya. Maka sejumlah LS dicurigai bayaran, manakala jagoannya dikalahkan. Sebaliknya yang memenangkan jagoannya, dianggap itu angka-angka real (resmi), bukan abal-abal. Sampai-sampai Andre Rosiade dari tim BPN siap menuntut para LS, bilamana Prabowo menang tapi dalam survei disebutkan kalah. LS seperti SMRC, LSI Denny JA, Indobarometer, Charta Politica, Fox Populi, JSI; prosentasenya menguntungkan Capres No. 01. Sebaliknya LS Polmark, Median, Indomatrik, bahkan Litbang Kompas, menguntungkan Capres No. 02. Disebut “menguntungkan”, karena meski masih kalah dari Capres No. 01, tapi trennya membaik untuk Capres No. 02. LS tersebut memiliki metode sendiri saat mengumpulkan data di lapangan, yang mengklaim margin eror sekitar 2-3 persen. Lalu mana kira-kira LS-LS yang bisa dipercaya? Bila media cetak dan online harus terverifikasi Dewan Pers, maka para LS pun harus pula anggota Persepi (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia) yang diketuai Hamdi Muluk. Angka-angka LS itu sebetulnya sekedar ancer-ancer, bukan harga mati. Maka Jokowi menyikapi angka LS itu sekedar penyemangat, manakala angka-angkanya menurun. Sebaliknya Capres Prabowo, hanya percaya pada survei internal. Di luar itu, kebanyakan LS hanyalah angka-angka pesanan! – gunarso ts


News Update