GEROMBOLAN anak muda bermotor, yang di kalangan masyarakat kerap disebut ‘geng motor’ lebih dikenal dengan konotasi negatif. Stempel geng motor sebagai gerombolan anak-anak muda yang kerap membuat ulah, bukan tanpa alasan. Kelompok-kelompok tersebut kerap berulah, brutal melakukan perbuatan kriminal. Belum lama terjadi, tepatnya Selasa 11 Februari 2019, gerombolan anak muda sekitar 30 orang mengendarai sepeda motor, mengacak-acak warung pecel lele di Pejaten, Pasar Minggu, Jaksel. Sebelumnya, 14 anggota geng motor menghilangkan nyawa pemuda yang berpapasan dengan mereka di Jalan Tubagus Angke, Jakbar. Mereka kini telah ditahan di Polres Jakarta Barat. Nama kelompok mereka cukup aneh didengar, seperti Geng Basmol (barisan manusia oleng) Geng Swiss (sekitar wilayah Slipi), Geng Garjok (garden pojok, Geng Israel (istana sekitar rel). Bukan hanya di Jakarta saja, di sejumlah daerah geng anak muda yang kerap bikin resah, juga menjadi momok bagi warga. Di Cianjur, Jabar, 13 anak muda yang tergabung dalam tiga geng motor, ditangkap polisi. Mereka sebelumnya mengobrak-abrik minimarket dan menyerang warga. Munculnya geng-geng ini sebetulnya fenomena sosial yang sudah lama terjadi. Berawal dari kongkow-kongkow, remaja usia belasan tahun mencari ekstensi diri, membentuk kelompok dan melakukan kegiatan liar tidak terarah. Aksi meresahkan geng anak muda, sampai kini belum bisa dihentikan, sebaliknya kian mengerikan. Kelompok-kelompok ini telah berubah menjadi geng kriminal yang meneror warga. Munculnya geng-geng tersebut bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Lingkungan pendidikanlah yang membentuk karakter mereka, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, serta pemerintah. Anak-anak muda tidak terarah, hingga mengisi waktu dengan kegiatan negatif. Menumpas geng kriminal tidak akan berhasil dengan tindakan represif saja dengan menangkapi serta memenjarakan mereka. Justru yang tindaka preventiflah yang harus dikedepankan supaya mereka dari pengaruh negatif dunia luar. Jadi, munculnya geng-geng kriminal adalah kesalahan bersama, dan menanggulanginya juga tanggungjawab bersama. Di sinilah ‘trilogi pendidikan’ yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat sangat berperan membentuk karakter anak. **
Teror Geng Kriminal
Jumat 15 Feb 2019, 04:54 WIB
Editor
[email protected] Follow Poskota
Cek berita dan informasi menarik lainnya di Google News sekaligus ikuti WhatsApp Channel POSKOTA untuk update artikel pilihan dan breaking news setiap hari.