Menata dan Menjaga Monas

Senin 28 Jan 2019, 06:37 WIB

KAWASAN Monumen Nasional (Monas) kembali dibenahi. Tak kurang Rp150 miliar duit bersumber Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Pemprov DKI Jakarta siap digelontorkan untuk menata ulang taman kebanggaan warga Jakarta itu. Gubernur Anies Baswedan kini tengah mempersiapkan sayembara untuk penataan kawasan Monas. Taman ini akan ditata lebih kekinian dan sesuai dengan zaman now. Tidak seperti sekarang yang pemanfaatannya terbatas. Sesuai sejarah, Monas mulai dibangun 17 Agustus 1961 dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api dan dilapisi lembaran emas melambangkan semangat perjuangan yang menyala. Taman yang menjadi landmark Jakarta selama ini sudah bolak-balik ditata. Penataan paling ekstrem dilakukan Sutiyoso saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tak tanggung-tanggung taman seluas 80 hektar itu dipagar keliling. Saat itu, tak kurang dari Rp9 miliar digelontorkan. Sutiyoso berdalih memagar Monas bukan untuk membatasi warga berkunjung ke taman yang berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat itu. Namun, kenyataannya Pemprov DKI Jakarta belum bisa mengamankan kawasan itu dengan baik. Terlalu banyak persoalan yang teradi di sana. Bang Yos panggilan Sutiyoso mengklaim memagar Monas disesuailam dengan estetika, seni, keindahan, kenyamanan masyarakat, dan fungsinya sebagai paru-paru kota. Pendek kata Monas dijadikan sebagai Hutan Kota. Begitupula ketika Fauzi Bowo maupun Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Meski tidak se-ekstrem Sutiyoso, mereka terus saja memoles Monas. Tujuannya tentu agar taman bersejarah ini tambah nyaman dan semakin berkelas dunia. Setiap gubernur memang memiliki gaya dan konsep masing-masing dalam menentukan kebijakan, termasuk soal menata Monas. Seperti halnya Anies, saat Jakarta digenggamannya, taman kebanggan itu segera ditata ulang. Pagar yang selama ini menjadi pembatas antara jalan dan taman akan dibongkar, sehingga warga lebih mudah menikmati keindahan, kenyamanan Monas tanpa harus memutar-mutar mencari pintu masuk ke areal taman. Membongkar pagar bila tujuannya mengembalikan salah satu fungsi taman sebagai tempat rekreasi dan interaksi masyarakat tentu saja diapresiasi publik. Silakan saja menjadikan kawasan Monas seperti Central Park, New York, yang bisa dinikmati warga bukan garden yang cuma bisa dilihat saja. Namun, keamanan di kawasan Monas harus tetap terjaga. Apalagi pasca direvitalisasi, kawasan itu akan lebih terbuka untuk umum. @*


News Update