Awas, DBD Mengancam

Kamis 24 Jan 2019, 08:05 WIB

PENINGKATAN hujan diselingi panas belakangan ini sering terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Saat cuaca seperti ini, jentik nyamuk aedes aegypti berpotensi sangat cepat berkembang biak. Dampaknya bisa ditebak. Warga yang menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) dari hari ke hari terus bertambah. Di Depok, misalnya, warga yang menderita penyakit akibat digigit nyamuk aedes aegypti meningkat. Pada November 2018 penderita DBD hanya tercatat 36 kasus, lalu naik menjadi 115 kasus pada Desember 2018, dan hingga 21 Januari 2019 tercatat sebanyak 133 kasus. Kondisi serupa terjadi di Kota Bogor. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bogor, pasien DBD yang dirawat di sejumlah rumah sakit di wilayah itu sejak awal 2019 mencapai 93 kasus. Tiga pasien dikabarkan meninggal dunia akibat terserang virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti tersebut. Tiga pasien yang meningal karena DBD semunya balita. Penyakit mematikan juga mulai mewabah di ibukota. Peningkatan curah hujan dan perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap perkembangan aedes aegypti. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dari 1 Januari hingga 31 Desember 2018 tercatat ada 2.947 kasus. Dinas ini menyebut pada Februari dan Maret 2019 seluruh wilayah ibukota masuk dalam kategori waspada Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Merujuk hal ini sudah seharusnya semua pihak waspada terhadap mewabahnya DBD. Apalagi pada Januari hingga Maret, nyamuk penyebab DBD itu paling banyak berkeliaran. Gelorakan terus program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Jangan biarkan air bersih atau hujan menggenang lama di bak mandi, ban, kaleng-kaleng, atau got. Beri got atau saluran air sekitar rumah dengan abate untuk mematikan jentik nyamuk Aedes Aegypti, dan kuras bak mandi. Selain itu, tidak ada salahnya masyarakat juga senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Tanamkan dalam diri kita bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Awas, DBD mengancam. @*


News Update