Debat Menyisakan Debat

Sabtu 19 Jan 2019, 05:05 WIB

DEBAT perdana pasangan Capres dan Cawapres sudah berakhir. Tapi perdebatan dengan topik memperdebatkan "acara debat Capres" masih terus bergulir. Bahkan, perdebatan lebih seru, lebih heboh, lebih meluas, dan lebih terbuka lewat berbagai media, ketimbang acara debat capres itu sendiri. Jika dalam debat capres yang tampil pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin dan paslon Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, debat yang membahas soal debat capres melibatkan banyak orang. Boleh dikata dari Sabang sampai Merauke. Yang terlibat semua lapisan masyarakat, beragam profesi dan latar belakang. Tempat dan waktunya bebas. Bisa di mana saja, mulai dari warung kopi pinggir jalan hingga hotel berbintang. Tak ada batas waktu untuk saling berdebat, tak ada aturan dalam berdebat dan tak ada moderator dan dewan juri. Semua bebas membicarakan dan menilai debat capres. Ada menilai dari sisi penampilan capres dan cawapres. Cara mengajukan pertanyaan dan memberi jawaban atau argumentasi guna mempertahankan pendapatnya. Ada juga yang fokus menyoroti kekompakan. Ini menjadi penting karena dwitunggal menjadi satu kunci sukses memimpin negeri ini. Bagaimana memajukan negeri ini kalau capres dan cawapres tidak kompak, tidak menyatu. Tidak solid, tidak satu bahasa dan pikiran. Tak kalah menariknya sejumlah lembaga melakukan survei sejauh mana publik menilai, siapa yang layak memimpin negeri ini lima tahun ke depan. Memang, debat bisa menjadi satu indikator, tapi bukan satu satunya alat ukur. Masih banyak unsur lain yang lebih menentukan kemenangan, selain hasil debat. Itulah sebabnya dalam perdebatan sebenarnya tidak ada istilah menang dan kalah. Yang ada hanya merasa menang dan merasa kalah. Begitu juga dalam debat Capres dan Cawapres, hendaknya tidak mencari siapa menang dan siapa kalah. Hasil debat tak linier dengan hasil pilpres. Kemenangan sesungguhnya akan teruji pada 17 April saat pencoblosan. (*)


Berita Terkait


News Update